PRARABDHA
(NASIB) YANG TIDAK DAPAT
Vinneka Tunggal Eka DIRUBAH ATAU DIHINDARI
Kemiskinan telah membuat keluarga ini terpisah dan menderita, namun karma baik
membuat mereka terkenal ke seluruh dunia, simpati mengalir dari mana-mana.
Permainan karma, siapakah yang mampumemecahkan misteri ini ?
Bertemu Keluarga : Dinesh Rajaratnam (berbaju biru), seorang pengemudi truk asal
Sri Lanka, pernah diculik oleh kelompok milisi Irak pada Oktober 2004. Rajaratnam
dibebaskan dan telah kembali ke tanah air serta bertemu dengan anggota keluarganya
di Kolombo, Minggu (12/12). Rajaratnam (37), bapak dari tiga anak, berada di Irak
dan bekerja pada perusahaan transportasi yang berbasis di Kuwait. Rajaratnam
bersama seorang rekannya asal Banglades diculik di dekat basis militer Amerika
Serikat (AS) ketika hendak memasuki markas militer AS yang tidak disebutkan
lokasinya pada 28 Oktober lalu. Kemiskinan telah membuat Rajaratnam harus
merantau untuk mendapatkan penghasilan demi membiayai sekolah anak-anaknya.
Setelah disandera selama 43 hari, penculik membebaskannya dan juga sandera
dari Banglades. Namun, mereka diperingatkan untuk tidak lagi bekerja bagi kepentingan
Kuwait dan AS di Irak. Upaya diplomasi yang dilakukan Pemerintah Sri Lanka juga
turut mendorong pembebasan Rajaratnam (Kompas, 13 Desember 2004).
Ada tiga jenis manusia di dunia ini :
1. Manusia yang bersifat satvika (suci dan bersih).
2. Manusia yang bersifat rajasika (serakah, dinamis, dsb.).
3. Manusia yang bersifat tamasika (jahat, malas, kotor, destruktif, dsb.).
Prarabdha (nasib, kodrat) selalu hadir pada ketiga jenis manusia ini, tanpa dapat diganggu gugat keberadaannya, tanpa dapat dihindari atau dihapus.
Sebuah contoh, Bapak A pernah berbuat dosa pada suatu saat di masa lalu. Pada saat ini prarabdhanya mengakibatkan ia tidak mendapatkan makanan selama satu hari penuh alias kelaparan, karena satu dan lain hal maka semua ini dianggap kebetulan, demikian juga kalau ada seseorang yang mendapatkan musibah tertabrak mobil misalnya, lalu anggota keluarganya lupa makan karena panik, dsb. Namun menurut hukum karma tidak ada yang kebetulan, yang ada adalah sejenis hukuman terselubung, akibat perbuatan masa lalu yang hadir secara “kebetulan”.
1. Seandainya A ini bersifat satvika, maka ia secara sukarela akan berpuasa pada hari-hari tertentu demi netralnya dosa-dosa yang pernah disandangnya. Puasa yang tulus demi bhakti dan disiplin juga menghasilkan karma-karma baik untuk waktu-waktu yang akan datang.
2. Namun misalnya A bersifat rajasika, maka mungkin saja pada suatu hari ia sibuk sedemikian rupa sehingga tidak menyantap apapun juga karena terpaksa oleh keadaan yang serba darurat.
3. Dan misalnya A ini bersifat tamasika, maka suatu hari ia melakukan boikot makan sepanjang hari demi menteror istrinya, maka iapun menderita akibat prarabdhanya.
Semua contoh di atas menghasilkan karma-karma yang baru. Dan pada saat yang bersamaan semuanya mengalami juga prarabdha masing-masing sesuai kadar karma masing-masing.
\
Kembali ke daftar isi Teori Hukum Karma Kembali ke halaman daftar isi Sastra