DUMMAPADA
Vinneka
Tunggal Eka
V
BALA VAGGA
(Orang
Yang Bodoh)
1.
Malam
terasa panjang bagi seseorang yang berjaga, satu mil terasa jauh bagi yang letih,
lama sekali terasakan kehidupan ini bagi orang-orang yang bodoh yang tidak
memahami Dharma yang sejati ini.
2.
Seandainya
dalam pengembaraannya seseorang tidak menemukan seseorang yang lebih baik dari
padanya, atau sebanding dengannya, maka seyogyanyalah ia tetap melanjutkan
pengembaraannya seorang diri, tidak perlu menjalin persahabatan dengan orang
yang bodoh.
Keterangan : Orang bodoh di sini berarti orang
yang tidak sadar (eling) akan arti kehidupan ini.
3.
“Itu
adalah anak-anakku, dan kekayaan ini adalah milikku”, menderitalah dengan
berbagai pikiran-pikiran tersebut. Apabila dirinya sendiri bukan miliknya
bagaimana mungkin putra-putra dan kekayaan itu menjadi miliknya?
4.
Seseorang
yang bodoh yang sadar akan kebodohannya, adalah seorang yang bijaksana sejauh
itu. Namun seseorang yang bodoh yang berpikir bahwasanya ia adalah orang yang
bijaksana, ia disebut benar-benar seorang bodoh.
5.
Walaupun
selama hidupnya seseorang yang bodoh bergaul dengan seorang yang bijaksana, ia
tetap saja tidak akan memahami dharma, ibarat sebuah sendok yang tidak dapat
merasakan rasa masakan.
6.
Seseorang
yang pandai walaupun hanya mendapatkan kesempatan sesaat untuk bergaul dengan
orang yang bijaksana, namun ia segera akan memahami Dharma (Dhamma), ibarat
lidah yang mampu merasakan rasa masakan.
7.
Mereka-mereka
yang bodoh dan dangkal pengetahuannya memperlakukan diri mereka sendiri ibarat
memperlakukan musuh-musuhnya, karenanya mereka juga melakukan berbagai kebatilan
yang menghasilkan pahala pahit bagi mereka sendiri.
8.
Seandainya
seseorang setelah menyelesaikan sesuatu pekerjaan ternyata kemudian menyesali
perbuatan tersebut, maka hal tersebut dikatakan tidak baik. Hasil dari perbuatan
tersebut adalah ratapan tangis dan wajah yang muram.
9.
Dan
sesuatu perbuatan yang dilakukan secara baik dan tidak menghasilkan penyesalan
setelah selesai dilaksanakan, maka perbuatan tersebut dianggap baik. Pahala yang
diterimanya adalah penuh dengan kebahagiaan dan kegembiraan.
10.
Hasil
pahala (buah) dari sesuatu perbuatan bajik yang belum saatnya masak, maka oleh
seseorang yang bodoh akan dianggap semanis madu; namun apabila hasil buah
perbuatan tersebut telah masak, maka yang ia rasakan adalah penderitaan.
Keterangan : Kata
pahala berasal dari kata Sansekerta buah, dan rasa buah bisa manis, pahit, busuk,
dan sebagainya. Begitupun dengan karma dan hasilnya yang disebut pahala ini.
Jadi pahala tidak selalu berarti buah atau karma yang baik, tetapi bisa bersifat
apa saja sesuai dengan karma sipelaku itu sendiri.
11.
Walaupun
seseorang yang bodoh itu menyantap makanannya dengan mempergunakan ujung rumput
kusa (ibarat seorang sanyasi miskin),
namun demikian ia tidak berharga bahkan seperenambelas bagian dari mereka yang
telah memahami Dhamma dengan baik.
12.
Sesuatu
perbuatan batil, ibaratnya susu yang baru diperah, tidak bisa langsung dibekukan
(dadih), ibarat api yang dalam sekam maka api ini mengikuti terus orang yang
bodoh ini.
13.
Dan
sewaktu kebatilan terungkapkan, maka hal tersebut akan merupakan penderitaan
bagi seseorang yang bodoh, kenudian menghancurkan reputasinya, ibarat memotong
kepalanya.
14.
Seseorang
yang bodoh menginginkan reputasi
yang palsu, menonjol diantara para Bhiksu, menginginkan berkuasa di berbagai
pertemuan, dan dipuja diantara orang banyak.
15.
“Semoga
kaum awam dan ia yang telah meninggalkan dunia ini berpikir bahwa aku telah
melakukan ini; semoga mereka menunjukku sebagai pelaksana berbagai pekerjaan,”
demikianlah ambisi sang bhikku yang bodoh dan berbagai hasrat dan
kesombongannyapun terus bertambah.
16.
“Sebuah
jalan menuju ke harta-benda, jalan yang lainnya ke Nirvana; seandainya sang
bhiksu ini adalah siswa Sang Buddha dan telah mempelajari perihal ini, maka ia
tidak akan menghasratkan kehormatan, ia akan berjuang untuk melepaskan dirinya
dari dunia(wi) ini.
VI
PANDITA
VAGGA
(ORANG
YANG BIJAKSANA)
1.
Seandainya
anda bertemu dengan seseorang yang menunjukan apa saja yang harus anda hindari,
yang dapat membuktikan kata-katanya, dan orang ini bersifat cerdas, ikutilah
orang ini ibarat mengikuti seseorang yang akan menunjukkan harta karun yang
tersembunyi; adalah hal yang baik, dan tidak buruk bagi seseorang untuk
mengikuti orang ini.
2.
Perkenankanlah
ia mengoreksi, mengajar dan melarang apa yang tidak selayaknya dilakukan! Orang
ini akan dicintai oleh orang-orang yang baik, dan ia akan dimusuhi oleh
orang-orang yang jahat.
3.
Janganlah
bergaul dengan orang-orang yang bertabiat iblis, janganlah bergaul dengan
orang-orang yang bermartabat rendah; bergaullah dengan orang-orang yang penuh
dengan kebajikan, carilah teman di antara mereka yang terbaik.
4.
Ia yang
hidup sesuai dengan pedoman Dharma, akan berbahagia hidupnya, penuh pikiran yang
damai dan tenang. Para kaum suci senantiasa berbahagia dengan Dharma, seperti
yang diajarkan oleh para Ariya.
5.
Para
penggali sumur mengalirkan air ke manapun mereka sukai, para ahli panah
melengkungkan panah, tukang kau melengkungkan gelondongan kayu, dan orang yang
bijaksana mengatur dirinya sendiri (dengan bijaksana dan penuh kendali).
6.
Bagaikan
sebuah batu karang yang kokoh yang tak dapat terhempas oleh angin, demikian juga
seorang yang bijaksanang tidak akan terpengaruh oleh berbagai celaan maupun
pujian.
7.
Orang-orang
yang bijaksana, setelah mendengarkan (sabda-sabda) Dharma, berubah menjadi
tenang, ibarat danau yang dalam, jernih dan tenang airnya.
8.
Orang-orang
yang baik menyesuaikan diri mereka dengan berbagai keadaan; orang-orang yang
bijak tidak membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan pemuasan sensualnya;
sewaktu dilanda kebahagian ataupun derita, mereka tidak terkesan bahagia atau
menderita.
9.
Seandainya
demi dirinya sendiri ataupun demi orang lain, orang yang bijaksana tidak
menghasratkan seorang putra, atau harta-benda, ataupun kekuasaan, dan seandainya
ia tidak menginginkan kesuksesan bagi dirinya dengan jalan yang tidak benar,
maka ini adalah seseorang yang bijaksana dan penuh dengan kebajikan.
10.
Diantara
insane manusia hanya sedikit yang dapat mencapai pantai seberang (menjadi Arhat),
kebanyakan orang hanya berlari kesana-kemari di tepi pantai ini.
11.
Namun
mereka-mereka, sewaktu telah diajarkan Dharma, mengikutinya secara seksama, maka
orang-orang ini akan menyeberangi kekuasaan kematian, yang amat sukar untuk
diseberangi.
Keterangan : Kata pahala berasal dari kata Sansekerta buah, dan rasa buah bisa manis, pahit, busuk, dan sebagainya. Begitupun dengan karma dan hasilnya yang disebut pahala ini. Jadi pahala tidak selalu berarti buah atau karma yang baik, tetapi bisa bersifat apa saja sesuai dengan karma sipelaku itu sendiri.
12/13. Seorang yang bijaksan harus meninggalkan sisi gelap kehidupannya, dan menjalani kehidupan bersisi terang seorang Bhiksu. Setelah meninggalkan rumahnya dan menuju ke tahap tanpa rumah, dalam pengasingannya ini ia harus menemukan kebahagiaan di mana kebahagiaan terkesan sulit untuk dicapai. Meninggalkan semua kenikmatan dibelakangnya, dan tidak menyatakan sesuatu apapun sebagai miliknya, maka ia harus melepaskan dirinya dari semua bentuk kegalauan sang pikiran.
14.
Mereka-mereka
yang jalan pikirannya telah dipenuhi dengan tujuh elemen (unsur) ilmu
pengetahuan, yang tanpa bergantung kepada apa saja, berbahagia lepas dari
keterikatan, yang seleranya telah dikalahkannya, yang penuh dengan cahaya,
mereka ini telah bebas walaupun masih hidup di dunia ini.
VII
A
R A H AT
(Orang-Orang
Yang Suci)
ARAHANTA
VAGGA
1.
Tidak ada
penderitaan bagi seseorang yang telah menyelesaikan perjalannya, dan telah
melepaskan rasa khawatirnya, yang telah bebas dari segala sisi, dan telah lepas
dari berbagai hasrat.
2.
Mereka
mengendalikan diri mereka dengan jalan pikiran mereka yang terbaik, mereka tidak
menghiraukan kediaman mereka; ibarat kawanan angsa yang telah meninggalkan danau
mereka, maka orang-orang inipun meninggalkan rumah tangga.
3.
Orang-orang
yang tidak berharta lagi, yang hidup dari santapan yang telah diatur sedemikian
rupa, yang telah mencapai kesunyataan dan kebebasan mutlak (Nirvana), jalan
mereka ini sulit untuk difahami, ibarat kawanan burung yang terbang diangkasa.
4.
Seseorang
yang seleranya telah membeku, yang tidak lagi terserap ke dalam kenikmatan, yang
telah mencapai kesunyataan dan kebebasan mutlak, maka jalan orang ini sulit
untuk dimengerti, ibarat kawanan burung di angkasa.
5.
Para dewa
iri hati terhadap orang yang berbagai ibdriyasnya, telah ditaklukkan ibarat
seorang pawing kuda yang mampu menaklukkan seekor kuda, yang lepas dari rasa
kesombongan, dan lepas dari berbagi selera.
6.
Seseorang
yang bersifat demikian melakukan kewajibannya ibarat bumi ini (bersikap kokoh),
ia ibaratnya adalah sebuah danau tanpa lumpur, baginya sudah tidak ada lagi
kehidupan (reinkarnasi) yang baru.
7.
Cara
berpikirnya tenang, sabda-sabdanya tenang, demikian juga dengan berbagai
pelaksanaannya, inilah ciri-ciri seseorang yang telah mendapatkan kebebasan
melalui ilmu pengetahuan sejati, ia kemudian berubah menjadi seseorang yang
tenang.
8.
Seseorang
yang telah bebas dari berbagai kredibilitasnya, namun memahami akan yang tidak
diciptakan ini, yang telah mengikis habis semua ikatan, telah menghapus semua
godaan, melepaskan semua hasrat nafsu, maka orang ini adalah yang teragung
diantara manusia.
9.
Apakah di
pedesaan maupun di tengah hutan, di pantai atau di padang pasir, di manapun
seorang suci (orang-orang suci) ini berdiam, maka tempat kediaman mereka itu
pastilah menyenangkan.
10.
Hutan
adalah tempat yang menyenangkan, namun seorang yang bersifat duniawi tidak dapat
menemukan kebahagiaan di sana; Di ssana mereka-mereka yang tidak bernafsu akan
menemukan kebahagiaan, karena mereka tidak mencari kenikmatan.
VIII
S
A H A S S A V A G G A
(Ribuan)
1.
Satu kata
yang bermakna lebih baik sifatnya dibandingkan dengan sebuah pidato yang
berisikan 1000 kata-kata yang tidak bermakna, satu kata tersebut akan
menentramkan yang mendengarkannya
2.
Seandainya
sebuah syair (Gatha) terdiri dari 1000 kata-kata yang tidak bermakna, maka
sebuah patah kata dari Gatha yang bermakna adalah lebih baik manfaatnya, dan
seandainya kata tersebut didengar seseorang, maka yang mendengarkannya akan
tentram hatinya.
3.
Walaupun
seseorang menjapakan seratus Gathas yang penuh dengan kata-kata yang tak
bermakna, maka sebuah kata Dharma adalah lebih baik sifatnya, karena akan
menentramkan seseorang yang mendengarnya.
4.
Walaupun
seseorang dapat mengalahkan 1000 orang dalam 1000 kali pertarungan, namun
seandainya seseorang dapat mengalahkan dirinya sendiri, maka orang tersebut
adalah yang teragung diantara para penakluk.
5-6.
Penaklukkan atas diri sendiri adalah lebih baik dari pada menaklukkan
semua orang lain; tidak seorang dewa, ataupun seorang Ghandarva, tidak juga Sang
Mara maupun seorang brahmana yang mampu mengubah kemenangan seseorang yang telah
menaklukkan dirinya ke bentuk kekalahan, orang semacam ini hidupnya selalu ketat
dengan disiplin.
Keterangan : Ganharva dalam bahasa Sansekerta berarti penyanyi dan pemusik di swargaloka. Bahasa Palinya disebut Gandhaba.
7.
Seandainya
seseorang selama seratus tahun mengorbankan pengorbanan setiap bulannya, dan
seandainya ia menyisihkan waktunya sejenak untuk mengunjungi seseorang yang
jiwanya telah terserap ke dalam ilmu pengetahuan, maka lebih bermakna dari pada
pengorbanannya yang diritualkan selama seratus tahun tersebut.
8.
Seandainya
seseorang selama seratus tahun memuja Dewa Agni (Api) di hutan, dan seandainya
ia menyisihkan sejenak waktunya dengan mengunjungi seseorang yang telah
bijaksana di dalam ilmu pengetahuannya, maka kunjungan tersebut lebih bermakna
dari pada pengorbanannya yang diritualkan selama seratus tahun tersebut.
9.
Apapun
yang dikorbankan seseorang di dunia ini sebagai bentuk pengorbanan untuk
mendapatkan sesuatu pamrih, maka pahalanya tidak lebih dari ¼ pahala yang
dihasilkannya dengan menghormati seseorang yang suci.
10.
Seseorang
yang selalu mendoakan kesejahteraan dan menghormati sesorang yang lebih tua,
maka ada empat hal yang akan ditambahkan kepadanya, yaitu : umur panjang,
keindahan, kebahagiaan dan kekuatan (kekuasaan).
11.
Seandainya
seseorang hidup seratus tahun, namun berkelakuan buruk dan tidak terkendali,
lebih bermakna kehidupan seseorang yang bersikap baik dan penuh interopeksi diri
selama sehari.
12.
Seseorang
yang hidup seratus tahun, namun diliputi kebodohan dan tidak disiplin
kelakuannya, maka lebih baik kehidupan seseorang yang bijaksana tetapi mawas
diri walaupun hanya sehari.
13.
Seseorang
yang hidup seratus tahun, lemah dan tidak mampu berkarya, maka lebih baik hidup
seseorang sehari namun penuh dengan kekuatan yang teguh.
14.
Seseorang
yang hidup seratus tahun, dan tidak melihat permulaan maupun akhir, maka
kehidupan sehari adalah lebih baik seandainya ia melihat permulaan dan akhir.
15. Seseorang hidup seratus tahun tanpa menyaksikan tempat yang abadi, maka kehidupan sehari dari pada seseorang yang telah melihat tempat abadi ini lebih bermakna dari pada yang pertama.
16. Seandainya seseorang hidup seratus tahun tanpa menyaksikan kebenaran yang tertinggi, maka lebih bermakna adalah kehidupan sehari seseorang yang telah melihat (menyaksikan) kebenaran yang tertinggi.
Disarikan oleh mohan m. s.