DUMMAPADA  V - VIII

Vinneka Tunggal Eka 

 

V

BALA VAGGA

(Orang Yang Bodoh)

1.             Malam terasa panjang bagi seseorang yang berjaga, satu mil terasa jauh bagi yang letih, lama sekali terasakan kehidupan ini bagi orang-orang yang bodoh yang tidak memahami Dharma yang sejati ini.

2.             Seandainya dalam pengembaraannya seseorang tidak menemukan seseorang yang lebih baik dari padanya, atau sebanding dengannya, maka seyogyanyalah ia tetap melanjutkan pengembaraannya seorang diri, tidak perlu menjalin persahabatan dengan orang yang bodoh.

          Keterangan : Orang bodoh di sini berarti orang yang tidak sadar (eling) akan arti kehidupan ini.

3.             “Itu adalah anak-anakku, dan kekayaan ini adalah milikku”, menderitalah dengan berbagai pikiran-pikiran tersebut. Apabila dirinya sendiri bukan miliknya bagaimana mungkin putra-putra dan kekayaan itu menjadi miliknya?

4.             Seseorang yang bodoh yang sadar akan kebodohannya, adalah seorang yang bijaksana sejauh itu. Namun seseorang yang bodoh yang berpikir bahwasanya ia adalah orang yang bijaksana, ia disebut benar-benar seorang bodoh.

5.              Walaupun selama hidupnya seseorang yang bodoh bergaul dengan seorang yang bijaksana, ia tetap saja tidak akan memahami dharma, ibarat sebuah sendok yang tidak dapat merasakan rasa masakan.

6.             Seseorang yang pandai walaupun hanya mendapatkan kesempatan sesaat untuk bergaul dengan orang yang bijaksana, namun ia segera akan memahami Dharma (Dhamma), ibarat lidah yang mampu merasakan rasa masakan.

7.             Mereka-mereka yang bodoh dan dangkal pengetahuannya memperlakukan diri mereka sendiri ibarat memperlakukan musuh-musuhnya, karenanya mereka juga melakukan berbagai kebatilan yang menghasilkan pahala pahit bagi mereka sendiri.

8.             Seandainya seseorang setelah menyelesaikan sesuatu pekerjaan ternyata kemudian menyesali perbuatan tersebut, maka hal tersebut dikatakan tidak baik. Hasil dari perbuatan tersebut adalah ratapan tangis dan wajah yang muram.

9.             Dan sesuatu perbuatan yang dilakukan secara baik dan tidak menghasilkan penyesalan setelah selesai dilaksanakan, maka perbuatan tersebut dianggap baik. Pahala yang diterimanya adalah penuh dengan kebahagiaan dan kegembiraan.

10.         Hasil pahala (buah) dari sesuatu perbuatan bajik yang belum saatnya masak, maka oleh seseorang yang bodoh akan dianggap semanis madu; namun apabila hasil buah perbuatan tersebut telah masak, maka yang ia rasakan adalah penderitaan.

          Keterangan : Kata pahala berasal dari kata Sansekerta buah, dan rasa buah bisa manis, pahit, busuk, dan sebagainya. Begitupun dengan karma dan hasilnya yang disebut pahala ini. Jadi pahala tidak selalu berarti buah atau karma yang baik, tetapi bisa bersifat apa saja sesuai dengan karma sipelaku itu sendiri.

11.         Walaupun seseorang yang bodoh itu menyantap makanannya dengan mempergunakan ujung rumput kusa (ibarat  seorang sanyasi miskin), namun demikian ia tidak berharga bahkan seperenambelas bagian dari mereka yang telah memahami Dhamma dengan baik.

12.         Sesuatu perbuatan batil, ibaratnya susu yang baru diperah, tidak bisa langsung dibekukan (dadih), ibarat api yang dalam sekam maka api ini mengikuti terus orang yang bodoh ini.

13.         Dan sewaktu kebatilan terungkapkan, maka hal tersebut akan merupakan penderitaan bagi seseorang yang bodoh, kenudian menghancurkan reputasinya, ibarat memotong kepalanya.

14.         Seseorang yang bodoh  menginginkan reputasi yang palsu, menonjol diantara para Bhiksu, menginginkan berkuasa di berbagai pertemuan, dan dipuja diantara orang banyak.

15.         “Semoga kaum awam dan ia yang telah meninggalkan dunia ini berpikir bahwa aku telah melakukan ini; semoga mereka menunjukku sebagai pelaksana berbagai pekerjaan,” demikianlah ambisi sang bhikku yang bodoh dan berbagai hasrat dan kesombongannyapun terus bertambah.

16.         “Sebuah jalan menuju ke harta-benda, jalan yang lainnya ke Nirvana; seandainya sang bhiksu ini adalah siswa Sang Buddha dan telah mempelajari perihal ini, maka ia tidak akan menghasratkan kehormatan, ia akan berjuang untuk melepaskan dirinya dari dunia(wi) ini.

 

VI

PANDITA VAGGA

(ORANG YANG BIJAKSANA)

1.             Seandainya anda bertemu dengan seseorang yang menunjukan apa saja yang harus anda hindari, yang dapat membuktikan kata-katanya, dan orang ini bersifat cerdas, ikutilah orang ini ibarat mengikuti seseorang yang akan menunjukkan harta karun yang tersembunyi; adalah hal yang baik, dan tidak buruk bagi seseorang untuk mengikuti orang ini.

2.             Perkenankanlah ia mengoreksi, mengajar dan melarang apa yang tidak selayaknya dilakukan! Orang ini akan dicintai oleh orang-orang yang baik, dan ia akan dimusuhi oleh orang-orang yang jahat.

3.             Janganlah bergaul dengan orang-orang yang bertabiat iblis, janganlah bergaul dengan orang-orang yang bermartabat rendah; bergaullah dengan orang-orang yang penuh dengan kebajikan, carilah teman di antara mereka yang terbaik.

4.             Ia yang hidup sesuai dengan pedoman Dharma, akan berbahagia hidupnya, penuh pikiran yang damai dan tenang. Para kaum suci senantiasa berbahagia dengan Dharma, seperti yang diajarkan oleh para Ariya.

5.             Para penggali sumur mengalirkan air ke manapun mereka sukai, para ahli panah melengkungkan panah, tukang kau melengkungkan gelondongan kayu, dan orang yang bijaksana mengatur dirinya sendiri (dengan bijaksana dan penuh kendali).

6.             Bagaikan sebuah batu karang yang kokoh yang tak dapat terhempas oleh angin, demikian juga seorang yang bijaksanang tidak akan terpengaruh oleh berbagai celaan maupun pujian.

7.             Orang-orang yang bijaksana, setelah mendengarkan (sabda-sabda) Dharma, berubah menjadi tenang, ibarat danau yang dalam, jernih dan tenang airnya.

8.             Orang-orang yang baik menyesuaikan diri mereka dengan berbagai keadaan; orang-orang yang bijak tidak membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan pemuasan sensualnya; sewaktu dilanda kebahagian ataupun derita, mereka tidak terkesan bahagia atau menderita.

9.             Seandainya demi dirinya sendiri ataupun demi orang lain, orang yang bijaksana tidak menghasratkan seorang putra, atau harta-benda, ataupun kekuasaan, dan seandainya ia tidak menginginkan kesuksesan bagi dirinya dengan jalan yang tidak benar, maka ini adalah seseorang yang bijaksana dan penuh dengan kebajikan.

10.         Diantara insane manusia hanya sedikit yang dapat mencapai pantai seberang (menjadi Arhat), kebanyakan orang hanya berlari kesana-kemari di tepi pantai ini.

11.         Namun mereka-mereka, sewaktu telah diajarkan Dharma, mengikutinya secara seksama, maka orang-orang ini akan menyeberangi kekuasaan kematian, yang amat sukar untuk diseberangi.

          Keterangan : Kata pahala berasal dari kata Sansekerta buah, dan rasa buah bisa manis, pahit, busuk, dan sebagainya. Begitupun dengan karma dan hasilnya yang disebut pahala ini. Jadi pahala tidak selalu berarti buah atau karma yang baik, tetapi bisa bersifat apa saja sesuai dengan karma sipelaku itu sendiri.

12/13. Seorang yang bijaksan harus meninggalkan sisi gelap kehidupannya, dan menjalani kehidupan bersisi terang seorang Bhiksu. Setelah meninggalkan rumahnya dan menuju ke tahap tanpa rumah, dalam pengasingannya ini ia harus menemukan kebahagiaan di mana kebahagiaan terkesan sulit untuk dicapai. Meninggalkan semua kenikmatan dibelakangnya, dan tidak menyatakan sesuatu apapun sebagai miliknya, maka ia harus melepaskan dirinya dari semua bentuk kegalauan sang pikiran.

14.         Mereka-mereka yang jalan pikirannya telah dipenuhi dengan tujuh elemen (unsur) ilmu pengetahuan, yang tanpa bergantung kepada apa saja, berbahagia lepas dari keterikatan, yang seleranya telah dikalahkannya, yang penuh dengan cahaya, mereka ini telah bebas walaupun masih hidup di dunia ini.

 

VII

A R A H AT

(Orang-Orang Yang Suci)

ARAHANTA VAGGA

1.             Tidak ada penderitaan bagi seseorang yang telah menyelesaikan perjalannya, dan telah melepaskan rasa khawatirnya, yang telah bebas dari segala sisi, dan telah lepas dari berbagai hasrat.

2.             Mereka mengendalikan diri mereka dengan jalan pikiran mereka yang terbaik, mereka tidak menghiraukan kediaman mereka; ibarat kawanan angsa yang telah meninggalkan danau mereka, maka orang-orang inipun meninggalkan rumah tangga.

3.             Orang-orang yang tidak berharta lagi, yang hidup dari santapan yang telah diatur sedemikian rupa, yang telah mencapai kesunyataan dan kebebasan mutlak (Nirvana), jalan mereka ini sulit untuk difahami, ibarat kawanan burung yang terbang diangkasa.

4.             Seseorang yang seleranya telah membeku, yang tidak lagi terserap ke dalam kenikmatan, yang telah mencapai kesunyataan dan kebebasan mutlak, maka jalan orang ini sulit untuk dimengerti, ibarat kawanan burung di angkasa.

5.             Para dewa iri hati terhadap orang yang berbagai ibdriyasnya, telah ditaklukkan ibarat seorang pawing kuda yang mampu menaklukkan seekor kuda, yang lepas dari rasa kesombongan, dan lepas dari berbagi selera.

6.             Seseorang yang bersifat demikian melakukan kewajibannya ibarat bumi ini (bersikap kokoh), ia ibaratnya adalah sebuah danau tanpa lumpur, baginya sudah tidak ada lagi kehidupan (reinkarnasi) yang baru.

7.             Cara berpikirnya tenang, sabda-sabdanya tenang, demikian juga dengan berbagai pelaksanaannya, inilah ciri-ciri seseorang yang telah mendapatkan kebebasan melalui ilmu pengetahuan sejati, ia kemudian berubah menjadi seseorang yang tenang.

8.             Seseorang yang telah bebas dari berbagai kredibilitasnya, namun memahami akan yang tidak diciptakan ini, yang telah mengikis habis semua ikatan, telah menghapus semua godaan, melepaskan semua hasrat nafsu, maka orang ini adalah yang teragung diantara manusia.

9.             Apakah di pedesaan maupun di tengah hutan, di pantai atau di padang pasir, di manapun seorang suci (orang-orang suci) ini berdiam, maka tempat kediaman mereka itu pastilah menyenangkan.

10.         Hutan adalah tempat yang menyenangkan, namun seorang yang bersifat duniawi tidak dapat menemukan kebahagiaan di sana; Di ssana mereka-mereka yang tidak bernafsu akan menemukan kebahagiaan, karena mereka tidak mencari kenikmatan.

 

VIII

S A H A S S A  V A G G A

(Ribuan)

1.             Satu kata yang bermakna lebih baik sifatnya dibandingkan dengan sebuah pidato yang berisikan 1000 kata-kata yang tidak bermakna, satu kata tersebut akan menentramkan yang mendengarkannya

2.             Seandainya sebuah syair (Gatha) terdiri dari 1000 kata-kata yang tidak bermakna, maka sebuah patah kata dari Gatha yang bermakna adalah lebih baik manfaatnya, dan seandainya kata tersebut didengar seseorang, maka yang mendengarkannya akan tentram hatinya.

3.             Walaupun seseorang menjapakan seratus Gathas yang penuh dengan kata-kata yang tak bermakna, maka sebuah kata Dharma adalah lebih baik sifatnya, karena akan menentramkan seseorang yang mendengarnya.

4.             Walaupun seseorang dapat mengalahkan 1000 orang dalam 1000 kali pertarungan, namun seandainya seseorang dapat mengalahkan dirinya sendiri, maka orang tersebut adalah yang teragung diantara para penakluk.

5-6.   Penaklukkan atas diri sendiri adalah lebih baik dari pada menaklukkan semua orang lain; tidak seorang dewa, ataupun seorang Ghandarva, tidak juga Sang Mara maupun seorang brahmana yang mampu mengubah kemenangan seseorang yang telah menaklukkan dirinya ke bentuk kekalahan, orang semacam ini hidupnya selalu ketat dengan disiplin.

          Keterangan : Ganharva dalam bahasa Sansekerta berarti penyanyi dan pemusik di swargaloka. Bahasa Palinya disebut Gandhaba.

7.             Seandainya seseorang selama seratus tahun mengorbankan pengorbanan setiap bulannya, dan seandainya ia menyisihkan waktunya sejenak untuk mengunjungi seseorang yang jiwanya telah terserap ke dalam ilmu pengetahuan, maka lebih bermakna dari pada pengorbanannya yang diritualkan selama seratus tahun tersebut. 

8.             Seandainya seseorang selama seratus tahun memuja Dewa Agni (Api) di hutan, dan seandainya ia menyisihkan sejenak waktunya dengan mengunjungi seseorang yang telah bijaksana di dalam ilmu pengetahuannya, maka kunjungan tersebut lebih bermakna dari pada pengorbanannya yang diritualkan selama seratus tahun tersebut.

9.             Apapun yang dikorbankan seseorang di dunia ini sebagai bentuk pengorbanan untuk mendapatkan sesuatu pamrih, maka pahalanya tidak lebih dari ¼ pahala yang dihasilkannya dengan menghormati seseorang yang suci.

10.         Seseorang yang selalu mendoakan kesejahteraan dan menghormati sesorang yang lebih tua, maka ada empat hal yang akan ditambahkan kepadanya, yaitu : umur panjang, keindahan, kebahagiaan dan kekuatan (kekuasaan).

11.         Seandainya seseorang hidup seratus tahun, namun berkelakuan buruk dan tidak terkendali, lebih bermakna kehidupan seseorang yang bersikap baik dan penuh interopeksi diri selama sehari.

12.         Seseorang yang hidup seratus tahun, namun diliputi kebodohan dan tidak disiplin kelakuannya, maka lebih baik kehidupan seseorang yang bijaksana tetapi mawas diri walaupun hanya sehari.

13.         Seseorang yang hidup seratus tahun, lemah dan tidak mampu berkarya, maka lebih baik hidup seseorang sehari namun penuh dengan kekuatan yang teguh.

14.         Seseorang yang hidup seratus tahun, dan tidak melihat permulaan maupun akhir, maka kehidupan sehari adalah lebih baik seandainya ia melihat permulaan dan akhir.

15.         Seseorang hidup seratus tahun tanpa menyaksikan tempat yang abadi, maka kehidupan sehari dari pada seseorang yang telah melihat tempat abadi ini lebih bermakna dari pada yang pertama.

16.    Seandainya seseorang hidup seratus tahun tanpa menyaksikan kebenaran yang tertinggi, maka lebih bermakna adalah kehidupan sehari seseorang yang telah melihat (menyaksikan) kebenaran yang tertinggi.

 

Disarikan oleh mohan m. s.

 

Kembali ke daftar isi Dummapada