DUMMAPADA  I - IV

Vinneka Tunggal Eka 

 

DUMMAPADA

Dhamma adalah sebuah kata yang berasal dari bahasa Pali sedangkan di dalam bahasa Sansekerta disebut Dharma, kata ini berarti teramat luas, contohnya : kewajiban seseorang kepada Yang Maha Esa, kepada kepercayaan dan peraturan bahkan kepada setiap bentuk kebajikan. Sering juga dhamma ini diterjemahkan sebagai Nirvana, juga sebagai sebuah tempat berlindung, bahkan sebagai langkah kaki. Oleh karena itu Dhammapada atau Dharmapada ini bisa juga diartikan sebagai langkah-langkah menuju ke arah kebajikan. Tentu saja sebuah kata selalu saja gagal mengungkapkan arti dan hakikat sebenarnya dari suatu ajaran yang agung, jadi biarlah karya sastra suci ini berbicara sendiri akan kandungan rohani yang diembannya. 

Di antara kitab suci Tripitaka, Dhammapada adalah bagian yang paling banyak diterjemahkan ke bahasa-bahasa lainnya semenjak awal abad ketiga. Dari bahasa Mandarin ke berbagai bahasa Eropah. Ajaran agung ini merupakan kesinambungan dari ajaran agama Hindhu Dharma yang disebut Sanatana Dharma dari masa ke masa. Sang Sidharta Buddha Gautama tidak pernah merubah agama yang dianutnya semenjak lahir, Beliau malahan menambahkan ajaran Agungnya ke dunia ini, melengkapi ajaran-ajaran Sanatana Dharma sebelumnya, itulah sebabnya semua mantra masih diawali dengan kata Om, dan Swastika (ilmu pengetahuan) tetap menjadi simbol Buddhisme. Beliau adalah Avatara agung dari Sang Maha Vishnu yang turun ke bumi untuk meluruskan jalan Dharma yang diselewengkan oleh kaum brahmana yang korup pada saat itu. Tanpa Beliau mungkin Sanatana-Dharma telah terjerumus ke jalan yan salah. Oleh karena itu sekal lagi naskah suci ini dihadirkan agar menjadi panutan bagi kita semua, umat sedharma dan juga bagi mereka-mereka dari umat lainnya yang membutuhkannya sebagai ilmu pembanding. Semoga karya ini bermanfaat bagi kita semua.

 

OM.....SHADU.....SHADU.....SHADU

 

I

YAMAKA VAGGA

(Syair-syair Kembar) 

1.             Sang pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, sang pikiran adalah sang pemimpin, semuanya dibentuk oleh sang pikiran. Seandainya seseorang berbicara atau berperi-laku melalui pikiran jahatnya, maka penderitaan akan mengikuti diri orang tersebut, ibarat roda pedati yang mengikuti langkah-langkah kaki sapi yang menariknya.

2.             Sang pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, sang pikiran adalah sang pemimpin, segala sesuatu dibentuk dan direkayasa olehnya. Bila seseorang berbicara melalui pikirannya yang murni, maka kebahagiaan akan mengikutinya, ibarat bayangan yang tidak pernah meninggalkan dirinya.

3.             “Ia telah menghinaku, ia telah memukulku, ia telah mengalahkanku, ia telah merampas harta milikku”. Seseorang yang menyimpan pikiran-pikiran semacam ini di dalam dirinya, maka baginya sebuah kebencian itu tidak akan pernah berakhir.

4.             “Ia menghinaku, ia memukulku, ia telah mengalahkanku, ia telah merampas milikku.” Bagi seseorang yang tidak menyimpan pikiran-pikiran semacam itu, maka baginya kebencian itu akan berakhir.

5.             Di dunia ini, kebencian tidak akan pernah berakhir seandainya dibalas dengan kebencian juga. Namun, kebencian akan berakhir seandainya dibalas dengan sebaliknya. Ini merupakan sebuah hukuman abadi.

6.             Sebagian besar insan manusia tidak sadar bahwasanya pertengkaran dapat mengakibatkan kebinasaan mereka; tetapi bagi mereka yang sadar akan halnya kebenaran ini, maka semua pertengkarannya akan diakhiri.

7.             Seseorang yang hidupnya tidak ditujukan kepada hal-hal yang bersifat menyenangkan, dengan berbagai indriya-indriyasnya yang tidak terkendali, yang makannya tidak mengenal batas, bermalas-malasan serta tidak bersemangat, maka Sang Mara (Ilusi, Maya, Penggoda) akan menguasai diri orang  tersebut, dan ibarat angin kencang akan menumbangkan sebuah pohon yang lapuk.

8.             Seseorang yang hidupnya tidak ditujukan kepada berbagai hal yang bersifat menyenangkan, maka berbagai indriyasnya akan terkendali; yang cara bersantapnya mengenal batas, penuh dengan keyakinan dan semangat, maka Sang Mara tidak dapat menguasainya, ibarat angin yang tidak dapat menumbangkan sebuah gunung yang besar.

9.             Barang siapa berhasrat mengenakan jubah berwarna kuning (jubah rahib), namun dirinya belum terbebaskan dari berbagi kotoran batin, dan tidak memiliki pengendalian diri serta kebenaran, maka sungguh tidak layak ia mengenakannya.

10.         Tetapi barang siapa telah membuang segala kekotorannya, berteguh menghayati sila, memiliki pengendalian diri serta kebenaran, maka sesungguhnya ia layak mengenakan jubah kuning.

11.         Seandainya ada hal yang penting oleh mereka dianggap tidak penting, dan sebaliknya hal-hal yang penting dianggap tidak penting. Mereka-mereka yang senantiasa berpikiran demikian, tidak akan pernah mencapai hal yang penting.

12.         Mereka-mereka yang sadar akan hal-hal yang penting, dan apa yang tidak penting sebagai tidak penting, maka orang-orang yang memelihara jalan pikiran yang benar ini, akan mencapai hal-hal yang penting.

13.         Ibarat hujan yang dapat menembus rumah yang beratapkan tiris, demikian juga nafsu akan menembus jalan pikiran yang tidak pernah dikembangkan.

14.         Ibarat hujan yang tidak dapat menembus rumah yang beratap kokoh, demikian juga sang nafsu tidak dapat menembus pikiran yang telah dikembangkan dengan baik.

15.         Seseorang akan bersedih hati di dunia ini, dan juga bersedih hati di dunia sana, pelaku kebatilan akan bersedih di kedua dunia ini. Ia akan menderita dan meratap, karena menyaksikan berbagai perbutannya yang tidak bersih.

16.         Seseorang yang bergembira di dunia sini, akan bergembira juga di dunia sana; sang pelaku kebajikan ini bergembira di kedua ini. Ia bergembira dan bersuka-cita, karena menyaksikan perbuatan-perbuatannya yang bersih.

17.         Seseorang  yang meratap di dunia siniakan meratap di dunia sana; pelaku kejahatan meratap di kedua dunia ini. Ia akan meratap sewaktu ia berpikir : “Aku telah melakukan berbagai kejahatan”, dan akan lebih meratap lagi ketika harus pergi menuju ke alam yang penuh dengan kesengsaraan.

18.         Seseorang berbahagia di dunia sini, ia juga berbahagia di dunia sana; pelaku kebajikan berbahagia di kedua dunia ini. Ia akan berbahagia sewaktu berpikir : “Aku telah berbuat kebajikan”, dan ia akan lebih berbahagia ketika harus pergi menuju ke alam bahagia.

19.         Walaupun seseorang banyak mempelajari kitab suci, namun tidak berbuat sesuai dengan ajaran, maka orang yang lengah itu ibaratnya sama dengan seorang gembala sapi yang menghitung sapi milik orang lain; ia tidak akan memperoleh manfaat kehidupan suci.

20.         Walaupun seseorang sedikit Kitab suci, namun selalu berbuat sesuai dengan ajaran, menyingkirkan nafsu-nafsu indriyasnya, menyingkirkan kebencian dan ketidak-tahuan, memiliki pengetahuan benar dan batin yang terbebas dengan baik, tidak melekat pada sesuatu apapun di dunia ini maupun di dunia sana, maka ia akan memperoleh manfaat kehidupan suci.

  

II

APPAMADA VAGGA

(Kewaspadaan) 

1.             Kewaspadaan adalah sebuah jalan yang menuju ke arah kekalan, kelengahan adalah sebuah jalan yang menuju ke arah kematian. Orang yang waspada tidak akan mati, dan orang yang lengah ibaratnya seperti orang yang sudah mati.

2.             Setelah memahami perihal ini dengan jelas, orang yang bijaksana bergembira di dalam kewaspadaannya dan sesuai pelaksanaan para Ariya.

3.             Seseorang yang bijaksana tekun bersemadhi, selalu bersemangat, dan berusaha secara benar-benar untuk mencapai Nibbana (Kebebasan Mutlak).

4.             Seseorang yang bersemangat, selalu sadar, murni dalam segala perbuatannya, memiliki pengendalian diri, hidup sesuai dengan Dhamma dan selalu bersikap waspada, maka nama harumnya akan berkembangan.

5.             Dengan usaha yang tekun, semangat, disiplin dan pengendalian diri, hendaklah orang yang bijaksana menciptakan sebuah pulau bagi dirinya sendiri, yang tidak dapat tenggelam oleh air bah.

6.             Seseorang yang dungu dan berpengertian dangkal terlelap di dalam kelengahannya; seseorang yang bijaksana senantiasa menjaga kewaspadaan, ibarat ia menjaga hartanya yang paling berharga.

7.             Janganlah (dikau) terlelap di dalam kelengahanmu, jangan juga terikat kepada berbagai kesenangan dan kenikmatan indriyas. Seseorang yang waspada dan gemar berlatih samadhi akan memperoleh kebahagian yang mulia.

8.             Bilamana seorang yang bijaksana telah mengatasi kelengahan dengan kewaspadaan, maka orang yang telah bebas dari penderitaan ini ibaratnya telah memanjat sebuah menara kebijaksanaan sambil memandang orang-orang yang menderita, ibarat seseorang yang berdiri di puncak gunung sambil memandang orang-orang yang berada di bawahnya.

9.             Sewaktu ia waspada di antara yang lengah, terjaga di antara yang tertidur, maka seorang yang bijaksana akan maju terus, ibarat seekor kuda yang berlari kencang meninggalkan kuda yang lemah di belakangnya.

10.         Melalui kewaspadaan, Dewa Saka mencapai tingkat pemimpin di antara para dewa. Sesungguhnya kewaspadaan akan selalu diagungkan dan kelengahan akan selalu dicela.

11.         Seorang bhikku yang berbahagia di dalam kewaspadaan dan melihat bahaya di dalam kelengahan akan maju terus, membakar semua rintangan batin ibarat bara api yang membakar bahan bakar, baik yang besar maupun yang kecil.

12.         Seorang bhikku yang berbahagia dalam kewaspadaannya dan melihat bahaya di dalam kelengahan, maka ia tidak dapat terperosok lagi; karena ia berada di ambang pintu Nibbana.

III

CIPTA VAGGA

(Sang Pikiran) 

1.             Pikiran yang goyah dab tidak stabil, yang sulit untuk dijaga dan sulit untuk dikuasai, maka oleh seorang yang bijaksana akan diluruskan, ibarat seorang pembuat panah meluruskan anak panahnya.

2.             Sang pikiran selalu menggelepar, bagaikan seekor ikan yang dikeluarkan dari dalam air ke daratan; demikian juga dengan jalan pikiran kita yang tergetar dalam usahanya membebaskan diri dai kekuasaan Sang Mara (sang penggoda).

3.             Mengendalikan sang pikiran yang sulit untuk dikendalikan, yang binal dan mengembara sesuka hatinya adalah upaya yang baik. Sang pikiran yang telah dijinakan akan membawa kebahagiaan.

4.             Sang pikiran ini sulit untuk diawasi karena bersifat amat halus dan gemar mengembara kesana-kemari sesuka hatinya. Karena itu hendaklah seseorang yang bijaksana menjaganya; sang pikiran yang dijaga ketat akan menghasilkan kebahagiaan.

5.             Mereka-mereka yang dapat mengikat pikiran mereka yang mengembara jauh, bergerak sendiri, tidak memiliki raga, dan bersembunyi di dalam gua (relung) hati sanubari mereka, maka mereka akan bebas dari jeratan Sang Mara.

6.             Orang yang pikirannya tidak teguh, yang tidak menganal hukum yang benar, yang pikirannya selalu goyah (goyah), maka pengetahuan orang semacam ini tidak akan pernah sempurna.

7.             Seandainya pikiran seseorang tidak terombang-ambing, seandainya pikiran tidak galau, seandainya ia telah berhenti berpikir akan baik dan buruk, maka tiada lagi ketakutan baginya yang selalu awas ini.

8.             Menyadari bahwasanya raga ini rapuh sifatnya ibarat sebuah tempayan, dan lalu merubah jalan pikirannya ibarat sebuah benteng yang kokoh, seseorang harus menyerang sang Mara sang pengoda dengan senjata ilmu pengetahuan, seseorang harus mengawasinya setelah ditaklukkannya, dan jangan sekali-kali lengah darinya.

9.             Aduh! Tidak lama lagi tubuh ini akan terbujur di atas tanah, dicampakkan, dan tidak memiliki kesadaran lagi, ibarat sebatang kayu yang tidak berguna.

10.         Apapun yang dilakukan oleh seorang pembenci kepada pembenci lainnya, ataupun yang dilakukan oleh seorang musuh kepada musuhnya, maka jalan pikiran yang salah akan melukainya lebih berat lagi.

11.         Bukan seorang ibu, bukan juga seorang ayah, dan bukan juga para kerabat yang mampu melakukan sedemikian banyaknya; sang pikiran yang berada di jalur yang baik akan lebih berbakti kepada kita.

  

IV

PUSHPA – VAGGA

[Puppa – vagga]

 (Berbagai Jenis Bunga)

1.             Siapakah yang akan menguasai bumi ini, dan lokanya sang Yama (Dewa Kematian), dan lokanya para dewa? Siapakah yang akan menyelidiki Jalan Kebaikan yang telah diajarkan secra gamblang, ibarat seorang yang pandai yang memilih jenis bunga yang tepat?

2.             Seorang siswa (sekha, sekho) akan menguasai bumi ini dan juga lokanya Sang Yama beserta lokanya alam dewa. Seorang siswa akan menemukan jalan ini ibarat seorang perangkai bunga yang pandai menemukan bunga yang tepat.

3.             Seseorang yang menyadari bahwasanya raga ini ibarat segumpalan busa, dan setelah mempelajari bahwasanya ia juga tidak nyata ibarat fatamorgana, maka ia akan mematahkan panah sang Mara yang berujung bunga, dan tidak akan menemui raja kematian (tidak bisa mati).

4.             Kematian akan menyeret seseorang yang mengumpulkan berbagai bunga dan yang pikirannya kesana-kemari, ibarat air bah yang menghayutkan sebuah desa yang (penduduknya) tertidur.

5.             Kematian menguasai seseorang yang gemar mengumpulkan berbagai ragam bunga-bunga (indriyas dan kenikmatannya), yang pikirannya telah terpikat ke arah yang lain dan tidak terpuaskan oleh kenikmatan-kenikmatannya.

6.             Ibarat seekor lebah yang mengumpulkan madu tanpa mencederai sang bunga, ataupun, warna ataupun harumnya, demikian juga hendaknya seorang yang suci berdiam di desanya.

7.             Seorang yang suci tidak seharusnya memperhatikan kesalahan, dosa dan perihal orang lain, tetapi seyogyanya memperhatikan kesalahan-kesalahan dan kealpaan-kealpaannya sendiri.

8.             Ibarat sekuntum bunga yang indah, penuh dengan warna-warni, amun tidak memiliki wewangian, demikian juga dengan kata-kata yang tidak berarti yang diutarakan oleh seseorang yang tidak berperi-laku seharusnya.

9.             Namun, ibarat sekuntum bunga yang indah, dan semerbak mewangi, penuh dengan warna-warni, demikian juga kata-kata yang penuh makna akan terpancar keluar dari seseorang yang berperi-laku seharusnya.

10.         Ibarat banyak kalungan (karangan) bunga yang dapat dibuat dari setumpukan bunga. Demikian juga banyak perihal kabajikan dapat dicapai oleh seseorang yang berjiwa begitu ia dilahirkan.

11.         Semerbaknya berbagai bunga-bunga tak dapat tersebar melawan arus angin, begitu juga dengan semerbak wanginya cendana, bunga Tagara dan bunga Malika (melati); namun keharuman seorang yang baik mampu menyebar melawan arus angin, ia akan dikenal di mana saja.

12.         Diantara wewangian cendana, atau bunga Tangara, bungai teratai atau bunga Vassiki, maka wewangian kebajikan adalah tak terkalahkan.

13.         Harumnya bunga Tangara dan harumnya cendana tidak seberapa artinya dibandingkan dengan keharuman mereka-mereka yang memiliki kebajikan karena keharuman mereka menyebar jauh tinggi keloka bersemayamnya para dewa-dewa.

14.         Diantara mereka-mereka yang memiliki sifat-sifat kebajikan, yang hidup tanpa terikat kepada pikiran-pikirannya, dan hidupnya berdasarkan pengetahuan yang sejati, maka Sang Mara tidak dapat menemukan mereka.

15.         Ibarat setumpukan kotoran yang dicampakan dijalan raya dan di atas tumbuh bunga-bunga lili yang mewangi, maka demikian juga dengan para siswa yang dianggap tidak berguna, maka mereka-mereka yang disinari secara sejati oleh Sang Buddha akan bersinar terus melalui ilmu pengetahuannya, jauh di atas dunia (masyarakat) yang buta.

 

Disarikan oleh mohan m. s.

 

Kembali ke daftar isi Dummapada