DUMMAPADA
Vinneka
Tunggal Eka
DUMMAPADA
Dhamma adalah sebuah kata yang berasal dari bahasa
Pali sedangkan di dalam bahasa Sansekerta disebut Dharma, kata ini berarti
teramat luas, contohnya : kewajiban seseorang kepada Yang Maha Esa, kepada
kepercayaan dan peraturan bahkan kepada setiap bentuk kebajikan. Sering juga
dhamma ini diterjemahkan sebagai Nirvana, juga sebagai sebuah tempat berlindung,
bahkan sebagai langkah kaki. Oleh karena itu Dhammapada atau Dharmapada ini bisa
juga diartikan sebagai langkah-langkah menuju ke arah kebajikan. Tentu saja
sebuah kata selalu saja gagal mengungkapkan arti dan hakikat sebenarnya dari
suatu ajaran yang agung, jadi biarlah karya sastra suci ini berbicara sendiri
akan kandungan rohani yang diembannya.
Di antara kitab suci Tripitaka, Dhammapada adalah
bagian yang paling banyak diterjemahkan ke bahasa-bahasa lainnya semenjak awal
abad ketiga. Dari bahasa Mandarin ke berbagai bahasa Eropah. Ajaran agung ini
merupakan kesinambungan dari ajaran agama Hindhu Dharma yang disebut Sanatana
Dharma dari masa ke masa. Sang Sidharta Buddha Gautama tidak pernah merubah
agama yang dianutnya semenjak lahir, Beliau malahan menambahkan ajaran Agungnya
ke dunia ini, melengkapi ajaran-ajaran Sanatana Dharma sebelumnya, itulah
sebabnya semua mantra masih diawali dengan kata Om, dan Swastika (ilmu
pengetahuan) tetap menjadi simbol Buddhisme. Beliau adalah Avatara agung dari
Sang Maha Vishnu yang turun ke bumi untuk meluruskan jalan Dharma yang
diselewengkan oleh kaum brahmana yang korup pada saat itu. Tanpa Beliau mungkin
Sanatana-Dharma telah terjerumus ke jalan yan salah. Oleh karena itu sekal lagi
naskah suci ini dihadirkan agar menjadi panutan bagi kita semua, umat sedharma
dan juga bagi mereka-mereka dari umat lainnya yang membutuhkannya sebagai ilmu
pembanding. Semoga karya ini bermanfaat bagi kita semua.
OM.....SHADU.....SHADU.....SHADU
I
YAMAKA
VAGGA
(Syair-syair
Kembar)
1.
Sang
pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, sang pikiran adalah sang pemimpin,
semuanya dibentuk oleh sang pikiran. Seandainya seseorang berbicara atau
berperi-laku melalui pikiran jahatnya, maka penderitaan akan mengikuti diri
orang tersebut, ibarat roda pedati yang mengikuti langkah-langkah kaki sapi yang
menariknya.
2.
Sang
pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, sang pikiran adalah sang pemimpin,
segala sesuatu dibentuk dan direkayasa olehnya. Bila seseorang berbicara melalui
pikirannya yang murni, maka kebahagiaan akan mengikutinya, ibarat bayangan yang
tidak pernah meninggalkan dirinya.
3.
“Ia
telah menghinaku, ia telah memukulku, ia telah mengalahkanku, ia telah merampas
harta milikku”. Seseorang yang menyimpan pikiran-pikiran semacam ini di dalam
dirinya, maka baginya sebuah kebencian itu tidak akan pernah berakhir.
4.
“Ia
menghinaku, ia memukulku, ia telah mengalahkanku, ia telah merampas milikku.”
Bagi seseorang yang tidak menyimpan pikiran-pikiran semacam itu, maka baginya
kebencian itu akan berakhir.
5.
Di dunia
ini, kebencian tidak akan pernah berakhir seandainya dibalas dengan kebencian
juga. Namun, kebencian akan berakhir seandainya dibalas dengan sebaliknya. Ini
merupakan sebuah hukuman abadi.
6.
Sebagian
besar insan manusia tidak sadar bahwasanya pertengkaran dapat mengakibatkan
kebinasaan mereka; tetapi bagi mereka yang sadar akan halnya kebenaran ini, maka
semua pertengkarannya akan diakhiri.
7.
Seseorang
yang hidupnya tidak ditujukan kepada hal-hal yang bersifat menyenangkan, dengan
berbagai indriya-indriyasnya yang tidak terkendali, yang makannya tidak mengenal
batas, bermalas-malasan serta tidak bersemangat, maka Sang Mara (Ilusi, Maya,
Penggoda) akan menguasai diri orang tersebut, dan ibarat angin kencang akan menumbangkan sebuah
pohon yang lapuk.
8.
Seseorang
yang hidupnya tidak ditujukan kepada berbagai hal yang bersifat menyenangkan,
maka berbagai indriyasnya akan terkendali; yang cara bersantapnya mengenal batas,
penuh dengan keyakinan dan semangat, maka Sang Mara tidak dapat menguasainya,
ibarat angin yang tidak dapat menumbangkan sebuah gunung yang besar.
9.
Barang
siapa berhasrat mengenakan jubah berwarna kuning (jubah rahib), namun dirinya
belum terbebaskan dari berbagi kotoran batin, dan tidak memiliki pengendalian
diri serta kebenaran, maka sungguh tidak layak ia mengenakannya.
10.
Tetapi
barang siapa telah membuang segala kekotorannya, berteguh menghayati sila,
memiliki pengendalian diri serta kebenaran, maka sesungguhnya ia layak
mengenakan jubah kuning.
11.
Seandainya
ada hal yang penting oleh mereka dianggap tidak penting, dan sebaliknya hal-hal
yang penting dianggap tidak penting. Mereka-mereka yang senantiasa berpikiran
demikian, tidak akan pernah mencapai hal yang penting.
12.
Mereka-mereka
yang sadar akan hal-hal yang penting, dan apa yang tidak penting sebagai tidak
penting, maka orang-orang yang memelihara jalan pikiran yang benar ini, akan
mencapai hal-hal yang penting.
13.
Ibarat
hujan yang dapat menembus rumah yang beratapkan tiris, demikian juga nafsu akan
menembus jalan pikiran yang tidak pernah dikembangkan.
14.
Ibarat
hujan yang tidak dapat menembus rumah yang beratap kokoh, demikian juga sang
nafsu tidak dapat menembus pikiran yang telah dikembangkan dengan baik.
15.
Seseorang
akan bersedih hati di dunia ini, dan juga bersedih hati di dunia sana, pelaku
kebatilan akan bersedih di kedua dunia ini. Ia akan menderita dan meratap,
karena menyaksikan berbagai perbutannya yang tidak bersih.
16.
Seseorang
yang bergembira di dunia sini, akan bergembira juga di dunia sana; sang pelaku
kebajikan ini bergembira di kedua ini. Ia bergembira dan bersuka-cita, karena
menyaksikan perbuatan-perbuatannya yang bersih.
17.
Seseorang
yang meratap di dunia siniakan meratap di dunia sana; pelaku kejahatan
meratap di kedua dunia ini. Ia akan meratap sewaktu ia berpikir : “Aku telah
melakukan berbagai kejahatan”, dan akan lebih meratap lagi ketika harus pergi
menuju ke alam yang penuh dengan kesengsaraan.
18.
Seseorang
berbahagia di dunia sini, ia juga berbahagia di dunia sana; pelaku kebajikan
berbahagia di kedua dunia ini. Ia akan berbahagia sewaktu berpikir : “Aku
telah berbuat kebajikan”, dan ia akan lebih berbahagia ketika harus pergi
menuju ke alam bahagia.
19.
Walaupun
seseorang banyak mempelajari kitab suci, namun tidak berbuat sesuai dengan
ajaran, maka orang yang lengah itu ibaratnya sama dengan seorang gembala sapi
yang menghitung sapi milik orang lain; ia tidak akan memperoleh manfaat
kehidupan suci.
20.
Walaupun
seseorang sedikit Kitab suci, namun selalu berbuat sesuai dengan ajaran,
menyingkirkan nafsu-nafsu indriyasnya, menyingkirkan kebencian dan
ketidak-tahuan, memiliki pengetahuan benar dan batin yang terbebas dengan baik,
tidak melekat pada sesuatu apapun di dunia ini maupun di dunia sana, maka ia
akan memperoleh manfaat kehidupan suci.
II
APPAMADA
VAGGA
(Kewaspadaan)
1.
Kewaspadaan
adalah sebuah jalan yang menuju ke arah kekalan, kelengahan adalah sebuah jalan
yang menuju ke arah kematian. Orang yang waspada tidak akan mati, dan orang yang
lengah ibaratnya seperti orang yang sudah mati.
2.
Setelah
memahami perihal ini dengan jelas, orang yang bijaksana bergembira di dalam
kewaspadaannya dan sesuai pelaksanaan para Ariya.
3.
Seseorang
yang bijaksana tekun bersemadhi, selalu bersemangat, dan berusaha secara
benar-benar untuk mencapai Nibbana (Kebebasan Mutlak).
4.
Seseorang
yang bersemangat, selalu sadar, murni dalam segala perbuatannya, memiliki
pengendalian diri, hidup sesuai dengan Dhamma dan selalu bersikap waspada, maka
nama harumnya akan berkembangan.
5.
Dengan
usaha yang tekun, semangat, disiplin dan pengendalian diri, hendaklah orang yang
bijaksana menciptakan sebuah pulau bagi dirinya sendiri, yang tidak dapat
tenggelam oleh air bah.
6.
Seseorang
yang dungu dan berpengertian dangkal terlelap di dalam kelengahannya; seseorang
yang bijaksana senantiasa menjaga kewaspadaan, ibarat ia menjaga hartanya yang
paling berharga.
7.
Janganlah
(dikau) terlelap di dalam kelengahanmu, jangan juga terikat kepada berbagai
kesenangan dan kenikmatan indriyas. Seseorang yang waspada dan gemar berlatih
samadhi akan memperoleh kebahagian yang mulia.
8.
Bilamana
seorang yang bijaksana telah mengatasi kelengahan dengan kewaspadaan, maka orang
yang telah bebas dari penderitaan ini ibaratnya telah memanjat sebuah menara
kebijaksanaan sambil memandang orang-orang yang menderita, ibarat seseorang yang
berdiri di puncak gunung sambil memandang orang-orang yang berada di bawahnya.
9.
Sewaktu
ia waspada di antara yang lengah, terjaga di antara yang tertidur, maka seorang
yang bijaksana akan maju terus, ibarat seekor kuda yang berlari kencang
meninggalkan kuda yang lemah di belakangnya.
10.
Melalui
kewaspadaan, Dewa Saka mencapai tingkat pemimpin di antara para dewa.
Sesungguhnya kewaspadaan akan selalu diagungkan dan kelengahan akan selalu
dicela.
11.
Seorang
bhikku yang berbahagia di dalam kewaspadaan dan melihat bahaya di dalam
kelengahan akan maju terus, membakar semua rintangan batin ibarat bara api yang
membakar bahan bakar, baik yang besar maupun yang kecil.
12.
Seorang
bhikku yang berbahagia dalam kewaspadaannya dan melihat bahaya di dalam
kelengahan, maka ia tidak dapat terperosok lagi; karena ia berada di ambang
pintu Nibbana.
III
CIPTA
VAGGA
(Sang
Pikiran)
1.
Pikiran
yang goyah dab tidak stabil, yang sulit untuk dijaga dan sulit untuk dikuasai,
maka oleh seorang yang bijaksana akan diluruskan, ibarat seorang pembuat panah
meluruskan anak panahnya.
2.
Sang
pikiran selalu menggelepar, bagaikan seekor ikan yang dikeluarkan dari dalam air
ke daratan; demikian juga dengan jalan pikiran kita yang tergetar dalam usahanya
membebaskan diri dai kekuasaan Sang Mara (sang penggoda).
3.
Mengendalikan
sang pikiran yang sulit untuk dikendalikan, yang binal dan mengembara sesuka
hatinya adalah upaya yang baik. Sang pikiran yang telah dijinakan akan membawa
kebahagiaan.
4.
Sang
pikiran ini sulit untuk diawasi karena bersifat amat halus dan gemar mengembara
kesana-kemari sesuka hatinya. Karena itu hendaklah seseorang yang bijaksana
menjaganya; sang pikiran yang dijaga ketat akan menghasilkan kebahagiaan.
5.
Mereka-mereka
yang dapat mengikat pikiran mereka yang mengembara jauh, bergerak sendiri, tidak
memiliki raga, dan bersembunyi di dalam gua (relung) hati sanubari mereka, maka
mereka akan bebas dari jeratan Sang Mara.
6.
Orang
yang pikirannya tidak teguh, yang tidak menganal hukum yang benar, yang
pikirannya selalu goyah (goyah), maka pengetahuan orang semacam ini tidak akan
pernah sempurna.
7.
Seandainya
pikiran seseorang tidak terombang-ambing, seandainya pikiran tidak galau,
seandainya ia telah berhenti berpikir akan baik dan buruk, maka tiada lagi
ketakutan baginya yang selalu awas ini.
8.
Menyadari
bahwasanya raga ini rapuh sifatnya ibarat sebuah tempayan, dan lalu merubah
jalan pikirannya ibarat sebuah benteng yang kokoh, seseorang harus menyerang
sang Mara sang pengoda dengan senjata ilmu pengetahuan, seseorang harus
mengawasinya setelah ditaklukkannya, dan jangan sekali-kali lengah darinya.
9.
Aduh!
Tidak lama lagi tubuh ini akan terbujur di atas tanah, dicampakkan, dan tidak
memiliki kesadaran lagi, ibarat sebatang kayu yang tidak berguna.
10.
Apapun
yang dilakukan oleh seorang pembenci kepada pembenci lainnya, ataupun yang
dilakukan oleh seorang musuh kepada musuhnya, maka jalan pikiran yang salah akan
melukainya lebih berat lagi.
11.
Bukan
seorang ibu, bukan juga seorang ayah, dan bukan juga para kerabat yang mampu
melakukan sedemikian banyaknya; sang pikiran yang berada di jalur yang baik akan
lebih berbakti kepada kita.
IV
PUSHPA
– VAGGA
[Puppa
– vagga]
(Berbagai Jenis Bunga)
1.
Siapakah
yang akan menguasai bumi ini, dan lokanya sang Yama (Dewa Kematian), dan lokanya
para dewa? Siapakah yang akan menyelidiki Jalan Kebaikan yang telah diajarkan
secra gamblang, ibarat seorang yang pandai yang memilih jenis bunga yang tepat?
2.
Seorang
siswa (sekha, sekho) akan menguasai bumi ini dan juga lokanya Sang Yama beserta
lokanya alam dewa. Seorang siswa akan menemukan jalan ini ibarat seorang
perangkai bunga yang pandai menemukan bunga yang tepat.
3.
Seseorang
yang menyadari bahwasanya raga ini ibarat segumpalan busa, dan setelah
mempelajari bahwasanya ia juga tidak nyata ibarat fatamorgana, maka ia akan
mematahkan panah sang Mara yang berujung bunga, dan tidak akan menemui raja
kematian (tidak bisa mati).
4.
Kematian
akan menyeret seseorang yang mengumpulkan berbagai bunga dan yang pikirannya
kesana-kemari, ibarat air bah yang menghayutkan sebuah desa yang (penduduknya)
tertidur.
5.
Kematian
menguasai seseorang yang gemar mengumpulkan berbagai ragam bunga-bunga (indriyas
dan kenikmatannya), yang pikirannya telah terpikat ke arah yang lain dan tidak
terpuaskan oleh kenikmatan-kenikmatannya.
6.
Ibarat
seekor lebah yang mengumpulkan madu tanpa mencederai sang bunga, ataupun, warna
ataupun harumnya, demikian juga hendaknya seorang yang suci berdiam di desanya.
7.
Seorang
yang suci tidak seharusnya memperhatikan kesalahan, dosa dan perihal orang lain,
tetapi seyogyanya memperhatikan kesalahan-kesalahan dan kealpaan-kealpaannya
sendiri.
8.
Ibarat
sekuntum bunga yang indah, penuh dengan warna-warni, amun tidak memiliki
wewangian, demikian juga dengan kata-kata yang tidak berarti yang diutarakan
oleh seseorang yang tidak berperi-laku seharusnya.
9.
Namun,
ibarat sekuntum bunga yang indah, dan semerbak mewangi, penuh dengan warna-warni,
demikian juga kata-kata yang penuh makna akan terpancar keluar dari seseorang
yang berperi-laku seharusnya.
10.
Ibarat
banyak kalungan (karangan) bunga yang dapat dibuat dari setumpukan bunga.
Demikian juga banyak perihal kabajikan dapat dicapai oleh seseorang yang berjiwa
begitu ia dilahirkan.
11.
Semerbaknya
berbagai bunga-bunga tak dapat tersebar melawan arus angin, begitu juga dengan
semerbak wanginya cendana, bunga Tagara dan bunga Malika (melati); namun
keharuman seorang yang baik mampu menyebar melawan arus angin, ia akan dikenal
di mana saja.
12.
Diantara
wewangian cendana, atau bunga Tangara, bungai teratai atau bunga Vassiki, maka
wewangian kebajikan adalah tak terkalahkan.
13.
Harumnya
bunga Tangara dan harumnya cendana tidak seberapa artinya dibandingkan dengan
keharuman mereka-mereka yang memiliki kebajikan karena keharuman mereka menyebar
jauh tinggi keloka bersemayamnya para dewa-dewa.
14.
Diantara
mereka-mereka yang memiliki sifat-sifat kebajikan, yang hidup tanpa terikat
kepada pikiran-pikirannya, dan hidupnya berdasarkan pengetahuan yang sejati,
maka Sang Mara tidak dapat menemukan mereka.
15.
Ibarat
setumpukan kotoran yang dicampakan dijalan raya dan di atas tumbuh bunga-bunga
lili yang mewangi, maka demikian juga dengan para siswa yang dianggap tidak
berguna, maka mereka-mereka yang disinari secara sejati oleh Sang Buddha akan
bersinar terus melalui ilmu pengetahuannya, jauh di atas dunia (masyarakat) yang
buta.
Disarikan oleh mohan m. s.