ASHTAVAKRA
GITA
Vinneka
Tunggal Eka
BAB
XV
BRAHMAN: REALITAS YANG ABSOLUT
Ashtavakra berucap :
1.
Seseorang yang memiliki Intelegensia (budhi) yang murni akan
merealisasikan Sang Jati Diri walaupun ia mempelajarinya secara mInim.
Sebaliknya seseorang yang inteleknya tidak murni, kacau (terganggu)
sewaktu ia berupaya merealisasikan Sang Jati Diri, padahal ia telah
mempelajarinya sepanjang hidupnya.
2.
Merasa hambar akan obyek-obyek sensual adalah kebebasan,
bernafsu akan obyek-obyek sensual adalah keterikatan. Sebenarnya hal ini disebut ilmu-pengetahuan.
Nah sekarang laksanakanlah apapun yang dikau kehendaki.
3.
Ilmu-pengetahuan tentang kebenaran ini merubah seseorang yang
pandai berbicara, yang bijaksana dan aktif, menjadi bisu (lebih banyak berdiam
diri dan bersikap hening), kaku dan pasif. Oleh karena itu, ilmu-pengetahuan ini dikutuk oleh
mereka-mereka yang menikmati keduniawian.
4.
Dikau bukanlah raga ini, raga ini bukanlah milikmu.
Dikau bukanlah “Si pelaksana atau si pemikat”.
Dikau adalah Kesadaran itu sendiri, Yang Abadi, Saksi yang bersikap
sama-rata terhadap semuanya (terhadap rasa suka dan duka).
Dengan demikian dikau akan hidup dalam kebahagiaan.
5.
Keinginan dan hal-hal yang sebaliknya adalah
kualitas-kualitas sang pikiran; dan sang pikiran ini bukanlah milikmu.
Dikau adalah Bodhatma (Intelegensia itu sendiri) yang lepas dari seluruh
fluktuasi-fluktuasi sang pikiran dan bersifat Tak Berubah-ubah.
Dengan demikian dikau akan hidup dalam kebahagiaan.
6.
Menyadari perihal Sang Jati Diri di dalam semua makhluk,
dan semua makhluk di dalam Sang JatiDiri, bebas dari rasa “ke Aku an”
dan bebas dari “Ke punyaan ku”, semoga dikau hidup dalam kebahagiaan.
7.
Oh Dikau, Intelegensia Murni! Di dalam dirimu seluruh
alam-semesta termanifestasi ibarat ombak di samudra. Semoga dikau bebas dari
demam yang melanda pikiranmu.
8.
Berimanlah secara sadar (shrada), putraku, berimanlah! Jangan
berkhayal tentang hal ini! Dikau adalah ilmu-pengetahuan itu sendiri. Dikau
berada jauh di atas Alam-Semesta.
9.
Raga ini terdiri dari berbagai unsur alam yang datang dan
tidak pergi. Lalu mengapa dikau berkabung (merasa sedih, meratapi) karena hal
tersebut?
10.
Biarkan raga ini berakhir pada ujung lingkaran (kalpa)nya, atau biarkan
ia pergi sendiri hari ini juga! Tidak akan ada kekurangan ataupun kelebihan di
dalam diriMu, yang merupakan Intelegensia Murni.
11.
Di dalam diriMu, yang merupakan samudra kesadaran yang Tak Terbatas
biarkan saja ombak-ombak alam-semesta ini timbul tenggelam secara spontan. Tidak
akan ada keuntungan ataupun kerugian bagiMu.
12.
Wahai Putra! Dikau adalah Intelegensia Murni itu Sendiri. Alam-semesta
ini tidak berbeda denganMu. Oleh karena itu, bagaimana, dimana dan kepunyaan
siapakah ide-ide tentang penerimaan dan penolakan? (Menerima atau menolak hidup
ini sebagai suatu bentuk realitas atau non-realitas).
13.
Darimana akan datang
kelahiran, aktifitas dan bahkan rasa ego, di dalam DiriMu yang (sebenarnya)
adalah Yang Maha Tunggal, Yang Tak Dapat Diubah-ubah, Yang Maha Tenang, Yang
Maha Tak Ternoda, Kesadaran Yang Maha Murni?
14.
Dikau semata-mata yang memanifestasikan diriMu dimanapun Dikau
menghendakinya. Mungkinkah berbagai
perhiasan tangan dan kaki (yang terbuat dari emas) berbeda dari emas itu sendiri?
15.
Secara menyeluruh tanggalkan perbedaan-perbedaan seperti “Aku adalah
Dia”, dan “ini bukan Aku”. Yakinlah
bahwa semua ini adalah Sang Jati Diri, dan bersikaplah tanpa hasrat dan
berbahagialah.
16.
Hanya melalui kekurang-pengetahuanMu saja terkesan bahwa alam-semesta ini
hadir. Padahal secara realitas
Dikau adalah Yang Maha Tunggal. Selain Dikau Tak Ada Jiwa lain atau Atman yang
lainnya.
17.
Seseorang yang memahami dengan penuh keyakinan bahwa alam-semesta ini
adalah tidak lain dan tidak bukan hanya sebuah ilusi belaka, akan berubah
menjadi seorang yang tak memiliki hasrat apapun juga, Intelegensia Murni ….
Dan ia tak ada lainnya yang eksis (hadir).
18.
Di samudra Eksistensi (kehidupan) ini, Yang Maha Tunggal Sang Jati Diri
hadir di masa-masa lampau, hadir pada saat ini juga dan juga akan selalu hadir
di masa-masa yang akan datang. Tak
ada keterikatan, kebebasan untukMu. Tujuan hidupMu tercapai dan berbahagialah
sambil berjalan kesana-kemari.
19.
Wahai Intelegensia Murni! Jangan mengganggu batinMu (pikiranMu) dengan
menerima dan menolak berbagai hal, diamkanlah mereka, bersemayamlah secara
bahagia di dalam diriMu sendiri, yang merupakan pengejawantahan dari Karunia
Tuhan Yang Bersifat ABSOLUT.
20.
Hentikanlah meditasi dan jangan berpikir akan apapun juga.
Dikau sebenarnya adalah Sang Jati Diri, Senantiasa Bebas Merdeka.
Apa yang ingin Dikau capai dengan bermeditasi. [1])
[1])
Menghentikan meditasi melalui meditasi
adalah bentuk meditasi tertinggi! Tidak
ada meditasi yang lebih agung daripada meditasi yang tak bermeditasi.
Hal ini disebut
pencapaian Yang Tak Terbatas (Tak Terterangkan) dan merupakan ujung jalan
dari tujuan, jadi tinggal satu langkah saja ke tujuannya.
Di tahap ini Yoga (ilmu-pengetahuan) pun terhenti, karena ilusi-ilusi
ego telah tiada lagi. Sang Jati Diri, sebagai Sang Jati Diri merealisasikan Sang
Jati DiriNya sendiri. Yang bermeditasi telah berubah menjadi Tujuan meditasi.
Insan ini telah menyatu di dalam Kerajaan Yang Maha Kuasa.
“Sang Jati Diri sebagai Seuatu Yang Tak Terterangkan; berkhayal di
dalam-Nya adalah sesuatu yang tidak mungkin;
Sadhana (konsentrasi terus-menerus dalam semadi) demi mencapai Sang
Maha Kesadaran Yang Tak Berubah-ubah hanyalah suatu khayalan belaka”.
Kembali ke daftar isi Ashtavakra Gita Kembali ke halaman induk Shanti Griya