ASHTAVAKRA
GITA
Vinneka
Tunggal Eka
BAB
XII
BAGAIMANA AGAR DAPAT BERSATU DENGAN SANG JATI DIRI
Janaka berucap :
1.
Pertama-tama aku bersikap menolak melakukan aktivitas-aktivitas ragaku,
kemudia kata-kata dan lalu berbagai pikiranku, Aku bersemayam di dalam DiriKu.
2.
Setelah tidak mendapatkan kepuasan dari berjapa dan dari obyek-obyek
sensual lainnya dan Sang Jati Diri pun tidak menampakkan diri, maka akupun
menjauhkan diriku dari samadi. Selanjutnya
oleh karena hal-hal tersebut, Aku bersemayam di dalam DiriKu.
3.
Harus ada upaya untuk bersamadi (konsentrasi dalam upaya bermeditasi)
sewaktu terjadi pengalihan dalam konsentrasi karena terganggu oleh pikirannya
yang kian kemari.
4.
Setelah menemukan (faham dan sadar akan) bahwa tidak ada yang harus
diterima dan tidak ada yang harus ditolak, dan
setelah merasa tidak memiliki kebahagiaan maupun penderitaan, “Oh
Brahmana” (Prabu Janaka menyebut Ashtavakra dengan sebutan Brahmana),
selanjutnya, oleh hal tersebut, pada saat ini ku bersemayam di dalam DiriKu.
5.
Menerima tahap-tahap kehidupan yang utama (Hindu Dharma mengenai sebab
tahap kehidupan manusia dari lahir sampai dengan kematian) ataupun menolak
menjalaninya, mengendalikan sang pikiran … semua ini kufahami sebagai
halangan-halangan bagiku, selanjutnya oleh karena hal tersebut, sebenarnya Aku
bersemayam di dalam DiriKu.
6.
Bersikap tidak melaksanakan sesuatu (non-aksi) dan melaksanakan sesuatu
tindakan, sama-sama bersumber dari kekurang-pengetahuan (vignana).
Memahami hal ini secara penuh, selanjutnya Aku, sebenarnya bersemayam di
dalam DiriKu sendiri.
7.
Berpikir akan Yang Maha Tak Terpikirkan (Tuhan Yang Maha Esa) seseorang
akhirnya membayangkanNya dalam suatu bentuk sesuai dengan kadar pemikiran orang
tersebut, sebenarnya, Aku
bersemayam di dalam DiriKu sendiri.
8.
Penuh dengan berkat adalah manusia yang telah mencapai tahap
pengejawantahan DiriNya ini. Penuh
dengan berkat adalah ia yang telah terisi (menyatu) dengan Alam Yang Maha Suci (Tuhan
Yang Maha Esa). [1])
[1] )Raja Janaka Seakan-akan terpesona oleh tahap spiritual yang sedang dialaminya pada saat tersebut, tanpa merasa ia memuji-muji Jati Dirinya. Tahap ini disebut Jivan-Muktah (Penyatuan dengan Yang Maha Esa) sewaktu raga ini masih hidup.
Kembali ke daftar isi Ashtavakra Gita Kembali ke halaman induk Shanti Griya