|
BAB
III Jalan
Aksi (atau Tindakan) |
1 |
Berkatalah
Arjuna 1.
Sekiranya Engkau berpikir, oh Krishna bahwa kesadaran (atau
pengetahuan) itu lebih baik dari pada suatu tindakan (aksi), lalu mengapa
pula Dikau menyarankan aku untuk berperang?
|
![]()
|
|
2 |
Dengan kata-kata yang saling bertentangan ini, Dikau mengacaukan pengertianku. Beritahukanlah kepadaku akan suatu jalan yang jelas, dengan apa aku dapat mencapai yang terbaik. |
![]()
|
|
3 | Di dunia ini ada dua ajaran yang telah Kuajarkan semenjak masa yang amat silam, oh Arjuna! Yang pertama adalah ajaran tentang ilmu pengetahuan (gnana-yoga) yang disebut ajaran Sankhya, untuk mereka-mereka yang penuh dengan ketekunan untuk mempelajarinya; dan yang kedua adalah ajaran mengenai tindakan (aksi, perbuatan pekerjaan, atau karma-yoga), jalannya para yogi, yaitu yang hidupnya harus bekerja dan selalu penuh dengan aksi. |
Ilmu
pengetahuan (gnana) dan karma-yoga
sebenarnya selaras, tidak ada konflik atau perbedaannya.
Yang ada hanyalah masalah disiplin.
Yang satu disiplinnya condong ke arah gnana dan yang satu lagi
condong ke arah karma.
Mereka yang menganut gnana disebut penganut Sankhya atau Sankhya Yogi dan mereka yang
jalan di nishkama-karma
(tindakan bukan untuk diri pribadi) disebut Karma-yogi. Gnana
yoga disebut juga sanyasa yoga
(yoga-disiplin), karena ilmu pengetahuan yang sejati sebenarnya mengarah ke sanyasa. Sri Shankar Acharya, seorang filsuf Hindu yang besar pernah
berkata tentang Bhagavat Gita sebagai berikut:
“Seorang penganut ilmu pengetahuan yang sejati (gnani) seharusnya juga adalah seorang sanyasi sekaligus,” tetapi menjadi seorang sanyasi tidak berarti lalu kita semua harus menanggalkan kewajiban
duniawi kita, kewajiban kita kepada masyarakat di sekeliling kita dan
mengembara atau bertapa di hutan seorang diri tanpa acuh lagi kepada orang
hidupnya sebagai seorang sanyasi
dalam dirinya sendiri, dalam tindak-tanduknya sehari-hari.
Yang dimaksud adalah kendalikan nafsu-nafsu indra kita, dan itu hanya
bisa dilakukan sambil melakukan kewajiban kita sesuai dengan pekerjaan dan
status kita dalam masyarakat. Seperti misalnya Raja Janaka, yang adalah seorang Maha-Raja
yang amat kaya-raya dan berkuasa, tetapi dalam hidupnya sehari-hari ia tak
pernah merasa memiliki apapun juga. Ia
bertindak sebagai raja karena sudah merupakan kewajibannya pada Yang Maha
Esa dan masyarakatnya. Raja
Janaka di dalam epik Hindu dikenal sebagai seorang gnani yang mempraktekkan
sanyasa, yaitu tidak keterikatan pada hal-hal yang bersifat duniawi, atau
dengan kata lain menjauhi hal-hal yang bersifat duniawi. Dengan
kata lain, Gnana-yoga, Sanyasa-yoga dan Sankhya-yoga
adalah sininimus, atau sama saja artinya. Menurut
para guru agama Hindu, gnana tidak berarti ilmu pengetahuan yang didapatkan
dari buku-buku. Seorang gnani
bukanlah seorang kutu-buku, karena seseorang boleh saja membaca banyak buku
bahkan mengutip dari buku-buku suci, tetapi belum tentu ia menghayati isi
buku-buku ini dan berubah langsung menjadi seorang gnani. Gnana atau ilmu pengetahuan yang sejati didapatkan secara langsung,
bukan dari buku-buku. Seorang
gnani sejati adalah seorang “pertapa,’ seorang yang dapat melihat
kebenaran. Ia bukan seorang
penyair atau pengarang yang berbicara atau menulis dari apa yang ia dengar
atau lihat. Ia berbicara atau
menulis karena ia merasakan dan melihat kebenaran itu secara langsung dan
sendiri. Ia memiliki sakshatkara, yaitu persepsi atau intuisi langsung. Tidak
ada kebijaksanaan yang dapat kita ambil dari buku-buku begitu saja, tetapi
harus melalui proses di dalam hidup kita ini.
Gnana berarti menyadari diri kita sendiri.
Hargailah ketenangan dan keheningan, karena kesadaran atau
kebijaksanaan biasanya datang pada waktu-waktu yang hening.
Makin banyak ketenangan dan keheningan di dalam diri kita, makin
banyak timbul kesadaran dan kebijaksanaan.
|
|
4 |
Seseorang tidak akan mendapatkan kebebasan dengan menelantarkan
pekerjaannya, juga seseorang tidak akan mendapatkan kesempurnaan dengan hanya
berpasrah diri. |
Bekerjalah, berproduktiflah dalam setiap hal, tetapi janganlah kita
menciptakan kekacauan atau hal-hal yang buruk atau negatif.
Ciptakanlah sesuatu yang indah, yang positif untuk dirimu dan semua di
sekitarmu dan semua perbuatanmu selama tidak dilakukan dengan nafsu egois, dan
selama tidak bermotifkan pamrih akan indah dan berguna untuk semuanya. Siddhi adalah kesempurnaan, dan
kesempurnaan biasanya tercapai dari suatu ketenangan atau keheningan.
Dan ciri-ciri khas seorang yang penuh dengan siddhi
ini adalah: a. Ia
memiliki disiplin yang kuat sekali dalam mengendalikan keinginan-keinginan
indra-indranya, bahkan sampi ke hal-hal yang terkecil sekali pun. b. Ia
telah belajar dan sadar bahwa “egonya harus dibunuh, apapun bentuk ego itu.”
Ada dua jalan ke arah siddhi ini: i. tidak
mengikuti jalan pikiran yang duniawi, dan ii. tidak mementingkan hal-hal yang bersifat duniawi. Agar
pikiran kita selalu tenang dan tak tergoyahkan, maka perlu sekali untuk
mengesampingkan semua unsur-unsur duniawi yang ada di sekitar kita.
Seseorang yang tekun bermeditasi harus selalu mengatakan pada dirinya:
uang, rumah, keluarga, istri, anak, harta milik, kekuasaan, rasa hormat dan lain
sebagainya adalah milik Sang Maya, dan bersifat tidak abadi, hanya Sang Atman
yang abadi! Dan pikiran semacam ini
harus betul-betul dihayati dan tertanam di dalam benak kita sehari-hari. Seseorang yang stabil meditasinya tak akan terganggu oleh berbagai
pikiran yang keluar masuk dalam kepalanya.
Semua itu dipikirkannya secara santai dan tenang dan tidak secara serius.
Meditasi yang benar akan menghasilkan seseorang yang selalu gembira,
bercahaya roman-mukanya, penuh dengan enersi dan dinamik tindak-tanduknya.
Pikiran-pikiran yang negatif tak akan membantunya sama sekali, tetapi
berpikir secara positif dan mengesampingkan kepentingan pribadi dan tak
terpengaruh oleh semua unsur-unsur duniawi akan menghasilkan energi yang positif
bagi seorang yang gemar bermeditasi. Bagi seorang yang ingin mencapai ketenangan, maka dianjurkan untuk
belajar bermeditasi pada seorang guru yang telah mencapai suatu kesempurnaan,
karena dari diri sang guru ini akan terpancar keluar getaran yang amat positif
bagi sang murid. Tanda-tanda
seorang spiritual yang telah mencapai ketenangan jiwa ini, adalah selain jiwanya
betul-betul telah tenang tak tergoyahkan, juga ia tak akan pernah terpengaruh
oleh semua kejadian-kejadian di dunia ini.
|
|
5 |
Tak seorang pun dapat lepas dari suatu
aksi, walaupun hanya sejenak;
karena setiap orang tanpa dikuasainya harus bertindak sesuai dengan guna-guna (sifat-sifat
alami pembawaannya) yang lahir dari prakriti
(alam). |
6 |
Seseorang yang nampak
tenang, tidak bertindak apapun dengan organ-organ
sensualnya (indra-indranya), tetapi di dalam benaknya yang terpikir justru
obyek-obyek sensual, orang yang kacau dan dalam kegelapan ini disebut orang yang
munafik. |
Mengelak dari pekerjaan adalah suatu hal yang tidak
mungkin.
Mata kita tak dapat bekerja selain melihat, kuping tak dapat bekerja lain
selain mendengar, dan badan kita tak dapat bekerja selain merasakan, dan otak
kita tak dapat bekerja selain berpikir. Jadi
mau tak mau seseorang harus bekerja atau bertindak sesuai dengan karmanya. Seandainya
kita tidak mau bekerja dan ingin duduk diam saja sebagai patung, maka bukankah
kita juga telah bertindak sebagai patung? Dengan mengelak dari
tindakan/aksi, kita tak akan pergi ke jalan penerangan/kesempurnaan, tetapi kembali ke “alam” (prakriti)
dan tindakan “alami.” Dalam “alam” ini ada tiga chakra atau tiga pusat
energi.
Dari ketiga pusat ini datanglah pekerjaan-pekerjaan untuk badan kita
secara otomatis tanpa kita sadari. Ketiga
chakra ini dengan kata lain disebut sifat sattva,
raja dan tama yang merupakan
pusat-pusat dari aksi kita masing-masing. Dan
sekiranya diluar badan kita, kita dapat mengendalikan semua unsur-unsur indra
kita, tetapi dalam benak kita justru tak dapat lepas dari selera-selera duniawi
ini, maka orang semacam ini disebut oleh Sang Krishna sebagai manusia yang
munafik. Contoh: seorang yang
dianggap suci sepert pendeta, misalnya, yang sehari-hari nampak bertindak suci,
tetapi sekali melihat gadis cantik langsung terangsang gairah sekssualnya.
Walaupun mungkin ia tidak bertindak lebih lanjut, tetapi itu sudah
menunjukkan betapa tindak-tanduknya sudah tidak sesuai dengan hati dan
pikirannya, dan inilah yang disebut munafik, karena tidak jujur pada diri dan
masyarakat sekelilingnya, apalagi kepada Yang Maha Esa.
Organ-organ sensual kita (indra-indra) adalah sebagian dari prakriti,
begitu pun pikiran-pikiran kita; untuk menjalani hidup yang sejati ini kita
harus dapat menaklukkan bukan saja indra-indra kita, tetapi juga pikiran kita,
dan itu berarti menaklukkan prakriti itu sendiri secara tidak langsung. Salah satu contoh yang baik untuk mengalahkan avykta ini adalah dengan
tinggal bersama-sama dengan seorang suci. Juga
sebaiknya setiap orang tidur dikamarnya masing-masing yang dilengkapi dengan
gambar-gambar orang-orang suci, dewa-dewi, dan ayat-ayat suci.
Mengoleksi buki-buku suci dan membakar wewangian untuk pujaan.
Sebelum tidur bermeditasilah, dan memfokuskan diri pada hal-hal yang
positif dan suci seperti mantra-mantra suci, atau pada suatu dewa tertentu, atau
pada sang guru, dan lebih baik lagi kalau dapat memfokuskan diri pada Sang
Atman, Sang Krishna atau Sang Brahman secara langsung (Yang Maha Esa).
|
|
7 |
Tetapi barangsiapa yang mengendalikan indra-indranya dengan
pikirannya,
oh Arjuna, dan tanpa keterikatan mempekerjakan organ-organnya demi karma-yoganya
(aksi atau pekerjaannya), maka ia disebut berhasil. |
![]()
|
|
8 |
Lakukan pekerjaan yang telah menjadi
kewajibanmu, karena bekerja adalah
lebih baik daripada tidak bekerja, bahkan ragamu saja tak mungkin stabil tanpa
suatu aktifitas. |
![]()
|
|
9 |
Pekerjaan merupakan suatu keterikatan di dunia
ini, kecuali kalau
dilakukan demi pengorbanan (demi Yang Maha Kuasa).
Seyogyanyalah, oh Arjuna, dikau aktif untuk pengorbanan ini, bebas dari
segala keterikatan. |
Di sloka di atas ada kata-kata, “lakukan pekerjaanmu demi pengorbanan
ini,” yang dimaksud dengan pengorbanan ini adalah yagna.
Menurut Shankara, ahli dan filsuf Hindu yang terkenal di masa silam,
yagna dapat berarti Vishnu, Sang Maha pengasih.
Yagna dengan demikian disimpulkan sebagai Yang Maha Esa dan juga
pengorbanan untuk Yang Maha Esa. Kemudian
mungkin timbul pertanyaan, pekerjaan apakah yang dapat disebut sejati?
Semua pekerjaan yang bermotifkan dedikasi atau semata untuk Yang Maha Esa
adalah pekerjaan yang sejati. Pengorbanan
selalu berarti “mengorbankan diri sendiri untuk orang atau hal lain,” dan
berkorban berarti menemukan diri sendiri yang sejati; tuluskah diri ini atau
masih tertutup oleh hawa-hawa nafsu dan ego?
|
|
10 |
Pada masa yang lalu, Prajapati . . . Dewanya para mahluk-mahluk,
menciptakan manusia dengan suatu itikad yang penuh dengan pengorbanan dan
berkatalah dewa ini: “Dengan pengorbanan ini engkau akan sejahtera.
Dan pengorbanan ini adalah ibarat Kamakhuk (sapi kemakmuan yang
beranak-pinak yang akan menghasilkan kemauan-kemauanmu).” |
Yagna sebenarnya bukan untuk
mendapatkan harta-benda duniawi, inilah kesalahan, sementara orang yang lebih
aktif beryagna secara duniawi, tetapi lebih bersifat untuk melajukan seseorang
ke arah Yang Maha Esa. Semakin banyak yagna
kita yang spontan dan tulus sehari-hari semakin dekat kita kepadaNya dan menyatu
denganNya. Dan pengorbanan ini
bukan satu jenis saja, misalnya dalam gnana-yoga yang dikorbankan adalah
ketidak-tahuan kita. Dalam karma-yoga yang dikorbankan adalah imbalan atau hasil kerja dan aktivitas
kita. Dalam bhakti-yoga yang
dikorbankan adalah keterikatan atas dua rasa atau sifat yang saling berlwanan
seperti senang-susah, suka-duka, benci-cinta, panas-dingin, dsb.
|
|
11 |
Dengan yagna, atau
pengorbanan,
berikanlah kepada para dewa, dan para dewa akan memberikannya kembali kepadamu
yang kau pinta. Dengan saling
memberikan kepada mereka ini dikau akan mencapai Kebaikan Yang Utama. |
12 |
Dengan mendapatkan
pengorbanan, para dewa akan memberkahimu dengan yang
kau pinta. Dan barangsiapa yang
menerima berkah dari para dewa tanpa berkorban kembali kepada mereka . . .
adalah betul betul seorang pencuri. |
Juga terdapat makna lain dari pengorbanan ini yaitu, agar apa yang kita
lakukan itu hasilnya dapat kita bagi juga untuk yang lainnya dan tidak hanya
untuk diri sendiri. Di Manava Dharma Shastra tertulis: “Seseorang hanya memakan dosa, sekiranya ia memasak untuk
dirinya sendiri!” Sekiranya sewaktu kita
makan, alangkah baiknya kalau dimulai dulu dengan
doa dan kita serahkan dulu yang kita makan kepadaNya dan kemudian kita bagi juga
bagi sesama mahluk lain, misalnya dengan membuang sedikit nasi yang kita makan
untuk semut-semut di halaman rumah, atau untuk anjing dan kucing piaraan di
rumah, dan lebih dari itu kalau ada kelebihan dibagi kepada fakir-miskin atau
orang lain yang membutuhkannya. Memberikan
sesuatu yang berlebihan di rumah kita adalah pekerjaan sosial yang dianjurkan
setiap agama, karena merupakan titipan dariNya juga untuk orang-orang lain yang
membutuhkannya. Dan ingatlah setiap
orang yang kikir selalu kehilangan sebagian dari harta-bendanya atau
kebahagiannya karena hukum alam akan berlaku atas orang yang berlebih-lebihan
miliknya baik itu dalam bentuk materi atau yang bersifat abstrak seperti pikiran
atau rasa.
|
|
13 |
Mereka yang
baik, adalah yang memakan sisa-sisa dari yang telah dikorbankannya, dan mereka-mereka ini akan lepas dari
dosa-dosa.
Tetapi yang tak beriman hanya memikirkan diri mereka sendiri yang mereka
makan hanyalah dosa! |
![]()
|
|
14 |
Dari makanan terbentuklah
mahluk-mahluk, dari hujan terbentuklah makanan;
hujan terbentuk dari yagna atau pengorbanan; dan pengorbanan lahir dari aksi (karma). |
![]()
|
|
15 |
Ketahuilah oleh dikau bahwa karma
(aksi) timbul dari Sang Brahma, dan Sang Brahma datang dari Yang Maha Esa (Yang
Tak Terbinasakan). Jadi Sang Brahma
yang selalu ada selalu hadir pada setiap pengorbanan. |
![]()
|
|
16 |
Seseorang yang hidup di dunia ini tanpa mau menggerakkan roda-roda
pengorbanan, adalah seorang yang penuh dengan dosa dan nafsu-nafsu duniawi.
Orang semacam ini, oh Arjuna, hidup secara sia-sia. |
![]()
|
|
17 |
Tetapi seseorang yang bahagia di dalam Sang Atmannya
sendiri, yang merasa
cukup dengan Dirinya, dan selalu puas oleh Dirinya . . . untuk orang semacam ini
sebenarnya tidak ada pekerjaan yang harus diselesaikan. |
![]()
|
|
18 |
Ia
tidak punya kepentingan pribadi di dunia ini baik ia melakukan sesuatu
maupun ia tidak melakukan sesuatu. Ia
tidak bersandar kepada siapapun untuk mencapai (atau mendapatkan) sesuatu
dalam hidupnya. |
![]()
|
|
19 |
Seyogyanyalah dikau selalu mengerjakan kewajibanmu tanpa rasa
keterikatan,
karena dengan bekerja tanpa pamrih seseorang akan mencapai Parama Yang Tertinggi. |
![]()
|
|
20 |
Janaka dan juga yang
lain-lainnya benar-benar mencapai kesempurnaan
dengan bekerja. Dan dikau pun seharusnya bekerja dengan dasar kesejahteraan
dunia ini. |
![]()
|
|
21 |
Apapun yang dilakukan oleh seorang
pemimpin, maka masyarakat akan mengikutinya. Masyarakat akan
meniru sama kaidah-kaidah yang dilaksanankan oleh pimpinan itu. |
![]()
|
|
22 |
Tidak ada sesuatu apapun di ketiga loka ini yang Kukerjakan, oh Arjuna, atau pun
ingin mencapai sesuatu yang belum tercapai, tetapi Aku selalu aktif bekerja. |
![]()
|
|
23 |
Karena, kalau Aku tidak
aktif, maka mereka-mereka yang aktif dan penuh
pengorbanan tidak akan mencontoh Diriku, oh Arjuna! |
![]()
|
|
24 |
Seandainya Aku berhenti
bekerja, maka dunia ini akan runtuh, dan Aku jadi
penyebab kekacauan, dan semua manusia-manusia ini akan binasa. |
25 |
Ibarat seorang bodoh yang bekerja demi
hasilnya, oh Arjuna, maka
seyogyanyalah seorang yang bijaksana juga bekerja, tetapi tanpa pamrih, dan
dengan tujuan untuk kelangsungan hidup di dunia ini. |
![]()
|
|
26 |
Janganlah seorang vidvan (bijaksana) mencegah pikiran mereka-mereka yang terikat
kepada pekerjaan mereka. Tetapi
bertindaklah berdasarkan ilmu pengetahuan ini . . . sesuai dengan kehendakKu . .
. dengan begitu memberikan inspirasi (atau mengajarkan) mereka untuk bertindak
yang betul. |
Jangan sekali-kali kita meremehkan kepercayaan orang-orang lain, apapun
kepercayaan dan keyakinan mereka, bahkan seharusnya kita harus menghormatinya
dan kemudian membantunya untuk lebih mengenal Yang Maha Esa dan bertugas demi
Yang Maha Esa. Setiap simbol yang
dipuja atau tindakan atau kepercayaan seseorang sebenarnya merupakan suatu
proses atau tindakan atau anak-tangga dari setiap individu untuk ke Yang Maha
Esa juga, tetapi karena “kebodohan” seseorang maka ia berjalan atas konsep
atau pengertian yang salah, pada hal yang ditujunya adalah Kekuatan Yang Abadi
juga. Dan setiap individu ini suatu
saat secara perlahan tetapi pasti akan menuju ke Yang Maha Esa juga.
Jadi sebaiknya seorang yang bijaksana memperbaiki dan membantu
mengarahkan orang-orang ini ke jalan yang benar, dan tidak sekali-kali memaksa
atau menertawakan kepercayaan orang lain.
|
|
27 |
Sebenarnya semua tindakan
(aktifitas) dilakukan berdasarkan sifat-sifat
alam (ketiga guna), tetapi seseorang yang penuh dengan rasa egois (ahankara)
akan berpikir: Akulah yang melakukannya.” |
28 |
Tetapi
seseorang, oh Arjuna, yang sadar benar akan perbedaan antara Sang
Jiwa dan sifat-sifat alam serta cara kerja sifat-sifat alam ini, tak akan
terikat pada pekerjaannya, karena ia sadar bahwa yang bekerja sebenarnya adalah
sifat-sifat alam ini. |
Secara sadar seorang yang bijaksana mengorbankan segala tindakannya
kepada Yang Maha Esa, dan secara otomatis ia akan selalu bekerja melawan segala
dosa dan cobaan agar dirinya makin bersih dan dapat lepas dari segala kegelapan,
penderitaan dan kekotoran duniawi ini. Jalan
ini menuju ke jalan “tanpa-pamrih.” Karena
seseorang yang bijaksana sadar bahwa yang bekerja sebenarnya bukan Sang Atman
tetapi sifat-sifat prakriti yang
menimbulkan berbagai ragam aktivitas atau tindakan.
Sifat berinteraksi dengan sifat, dan benda berinteraksi dengan benda,
Sang Atman sendiri selalu teguh sebagai saksi.
|
|
29 |
Mereka-mereka yang di dalam kegelapan akibat sifat-sifat alam ini terikat
pada pekerjaan-pekerjaan yang ditimbulkan oleh sifat-sifat ini.
Seorang yang sadar semuanya itu tak akan menggoyahkan pikiran seseorang
lain yang hanya mengerti sebagian kecil. |
![]()
|
|
30 |
Serahkan semua tindakan-tindakanmu
kepadaKu, dengan pikiran-pikiranmu
bersandar pada Yang Maha Esa, lepas dari segala kemauan dan egoisme, sadarlah
dari penyakit(mental)mu, berperanglah dikau, oh Arjuna! |
![]()
|
|
31 |
Barangsiapa menjalankan ajaran-ajaranKu ini penuh dengan kepercayaan dan
lepas dari mencari-cari kesalahan (ajaran ini) maka mereka juga akan lepas dari
keterikatan kerja. |
32 |
Tetapi mereka yang mencari-cari kesalahan dalam ajaranKu ini dan tidak
bertindak seharusnya; ketahuilah mereka-mereka ini buta tentang kebijaksanaan,
sesat dan tak berpikiran sehat. |
![]()
|
|
33 |
Seorang yang penuh dengan ilmu pun bertindak sesuai dengan
sifat-prakritinya. Setiap mahluk
mengikuti sifat-sifatnya masing-masing. Menentang
sifat-sifat ini-ini tidak akan berarti apa-apa! |
34 |
Keterikatan dan rasa-dualistik yang bertentangan pada obyek-obyek selalu
hadir di setiap hal. Janganlah
seseorang terbius oleh kedua hal ini. Karena
kedua-duanya adalah musuh dan hambatan-hambatan dalam perjalanannya. |
Prakriti itu sendiri bukanlah sesuatu kekuatan yang
dinamik.
Memang betul dalam kehidupan ini prakriti memainkan peranan yang amat
penting dan kuat pengaruhnya pada kita semua, tetapi selama kita mau menceburkan
diri di dalamnya dan mau terseret oleh arusnya, maka selama itu juga kita akan
terbenam di dalam prakriti ini. Tetapi
sekali kita menentangnya maka akan timbul kesadaran untuk mengatasinya.
Mengatasinya tidak dengan berperang dengan prakriti ini, karena sukar
untuk mengalahkannya, tetapi dengan merubah diri kita yang terbenam ini menjadi
ibarat sebuah perahu yang melayarinya. Jadi
masih dengan prakriti juga karena memang tidak bisa lepas darinya selama kita
masih hidup, tetapi sudah tidak berseret lagi tetapi malahan berlayar dengannya
sampai ketujuan. Sekali sudah
menyeberang maka selamatlah kita, beginilah orang-orang Hindu mengibaratkan
prakriti, sebagai sebuah sungai yang amat kuat arusnya, yang tak perlu ditentang
tetapi sebaliknya dilayari saja untuk sampai ke tujuan kita, yaitu Yang Maha Esa. Keterikatan dan rasa dualistik adalah musuh-musuh kita yang harus
dikalahkan. Caranya adalah dengan karma-yoga,
kuasailah rasa dualikstik seperti suka dan tak suka.
Organ-organ sensual atau indra-indra kita dapat dikalahkan oleh tekad
yang kuat. Tetapi jangan
menelantarkan atau menjadikan indra-indra kita ini lapar.
Tanpa terganggu oleh rasa dualistik ini, yang hadir dalam berbagai bentuk
apapun juga, lakukanlah kewajiban-kewajibanmu.
Kita bukanlah boneka-boneka ditangan sang prakriti; prakriti hanya bisa
menghambat kebebasan kita tetapi tidak mungkin bisa merampas kebebasan kita
kecuali itu mau kita sendiri. Setiap
orang memang hanya bisa mengikuti alur-alur sifat-sifatnya belaka, tetapi
seyogyanyalah seseorang meneliti dirinya sendiri, melihat sifat-sifat apa saja
yang dimilikinya, karena setiap manusia sebenarnya bersifat balans, ada segi
negatif dan positifnya. Kembangkanlah
yang positif dan kurangilah yang negatif. Sia-sia
saja melawan semua itu, sebaiknya menyesuaikan diri dulu, kemudian merubahnya
secara perlahan tetapi pasti.
|
|
35 |
Lebih baik mengerjakan kewajiban atau pekerjaan
(svadharma) seseorang, walaupun mengerjakannya kurang
sempurna, daripada melakukan kewajiban
orang lain, walaupun pelaksanaannya sempurna.
Lebih baik mati dalam mengerjakan kewajiban seseorang.
Mengerjakan kewajiban orang lain itu penuh dengan mara-bahaya. |
Tidak ada masalah bagi Yang Maha Esa mengenai tinggi-rendahnya nilai
suatu pekerjaan atau kewajiban, semuanya bagi Yang Maha Esa sama saja sifatnya.
Tetapi mengerjakan kewajiban kita masing-masing secara baik dan penuh
dedikasi nilainya lebih baik untuk kepuasan batin kita sendiri, dan secara
spiritual berkatanya ditentukan olehNya sesuai dengan kehendakNya juga.
Seorang tukang sepatu membuat sepatu yang baik, seorang pendeta
mengarahkan umatnya dengan penuh dedikasi dan iman, dan seorang raja memerintah
dengan bijaksana; jika semua orang bekerja dengan baik sesuai dengan kewajiban
dan sifatnya yang asli tanpa menyerobot usaha atau pekerjaan orang lain dengan
alasan apapun juga, maka semuanya akan stabil dan harmonis dalam kehidupan ini.
|
|
36 |
Berkatalah
Arjuna: 36.
Oleh sebab apakah seseorang tertarik untuk berbuat dosa pada hal itu
bertentangan dengan pikirannya, oh Krishna, seakan-akan dihela oleh daya yang
amat kuat? |
Dalam jawabannya di sloka-sloka
mendatang, Sang Krishna menunjuk bahwa
manusia ini sebenarnya bukan mesin-otomatis.
Dharma atau kewajiban seseorang telah digariskan berdasarkan
kehidupan atau karmanya semasa lampau.
Seseorang bisa saja lahir untuk menjadi seorang guru, polisi, pedagang,
tukang-kayu, pendeta, pegawai negeri, atau mengabdi kepada fakir-miskin, dan
sebagainya. Kewajiban itu sudah digariskan, kita harus menemukannya
sendiri sesuai dengan bisikan hati nurani kita.
Sedangkan kesucian atau perbuatan dosa seseorang . . kedua hal ini tidak
digariskan, jadi terserah kepada orang atau individu yang bersangkutan untuk
memilihnya sendiri, mau berbuat dosa atau hal yang baik-baik saja.
Memang karma dan kehidupan
sebelumnya akan cenderung untuk menentukan jalan yang kita pilih, tetapi Yang
Maha Kuasa pun memberikan kita kekuatan batin, tekad, dan ratio, dan semua ini
dapat menentukan jalan apa yang harus kita ambil.
Kalau seseorang maunya tersandung terus yah lama kelamaan ia harus jatuh
juga, tetapi kalau tekadnya kuat untuk berjalan lurus yah ia tak akan pernah
jatuh, atau kalau jatuh ia akan lebih berhati-hati selanjutnya. Arjuna bertanya, “mengapa seseorang berbuat dosa padahal belum tentu ia
mau melakukannya.” Sebenarnya hal
tersebut tidak benar, setiap orang yang berbuat dosa sebenarnya di dalam hatinya
sudah kalah lebih dahulu dengan cobaan-cobaan yang dihadapinya, baru kemudian ia
terjerumus ke dosa itu. Seseorang
yang dasarnya memang terikat-erat pada benda-benda dan nafsu-nafsu duniawi ini
akan mudah jatuh setiap ada cobaan. Sebaliknya
jika ia penuh tekad untuk bertindak suci dan jauh dari keterikatan duniawi, maka
ia akan menang. Dengan kata lain
semuanya itu, sebenarnya kembali ke disiplin manusia itu sendiri.
|
|
37 |
Bersabdalah
Yang Maha Pengasih: 37.
Keinginan (kama), kemarahan (krodha),
yang lahir dari rajoguna (berbagai ragam nafsu dan keinginan), semua ini serba
penuh dengan keserakahan dan penuh dengan pencemaran. Inilah musuh kita di bumi ini. |
Kita sebaliknya tidak memusatkan pikiran kita pada hal-hal yang duniawi
yang kelihatannya menyenangkan. Sekiranya
pikiran selalu terpusat ke arah suatu obyek yang menyenangkan.
Sekiranya pikiran selalu terpusat ke arah suatu obyek yang menyenangkan
ini, maka akan timbul suatu pengalaman atau kejadian yang akan membangkitkan
nafsu atau keinginan kita, kemudian timbul hasrat untuk mendapatkan obyek
tersebut dan, menguasainya secara total, dan jatuhlah kita ke dalam cengkraman
sang Maya. Dan seandainya
sebaliknya keinginan tersebut tidak tercapai atau kita tidak puas akan hasil
yang tercapai, maka akan timbul rasa amarah, dan rasa amarah ini kalau tidak
terkendali dapat menghancurkan segala-galanya.
Cara yang terbaik untuk keluar dari cobaan kama ini adalah dengan
mengembangkan tekad kita ke jalan yang penuh disiplin dan dedikasi kepada Yang
Maha Esa. Bekerja aktif sesuai
kewajiban kita kepada Yang Maha Esa akan banyak menolong kita membentuk tekad
itu sendiri, dan tekad ini akan tumbuh terus dengan tegar di dalam diri kita.
|
|
38 |
Seperti bara-api yang terbungkus oleh
asap, seperti cermin yang terlapis
oleh debu dan ibarat embrio (janin bayi) yang terbungkus oleh kulit perut --
begitu juga ini terbungkus oleh itu. |
![]()
|
|
39 |
Kebijaksanaan, oh
Arjuna, juga terbungkus oleh api nafsu yang tak
terpuaskan ini yang jadi musuh tetap orang-orang yang bijaksana. |
Salah satu ucapan Sang Manu (manusia pertama) yang terkenal adalah:
“Nafsu tak pernah puas oleh obyek-obyek sensual yang didapatkannya.
Semakin banyak yang dicapainya semakin besar ia tumbuh bagaikan bara-api
yang tersiram minyak.”
|
|
40 |
Indra-indra, pikiran dan intelegensia (buddhi)
adalah tempat-tempat nafsu ini bersemayam.
Mencegah kebijaksanaan dengan ini, nafsu menggelapkan sang jiwa yang ada
di dalam tubuh. |
![]()
|
|
41 |
Seyogyanyalah, oh
Arjuna, kendalikan indra-indramu dan bantailah nafsu
berdosa ini yang menghancurkan gnana dan vignana. |
![]()
|
|
42 |
Indra-indra kita itu besar
kadarnya.
Tetapi pikiran itu lebih besar kadarnya dibandingkan dengan indra-indra
itu. Lebih besar lagi kadar buddhi.
Tetapi yang lebih besar lagi kadarnya adalah Ia (Sang Atman, Sang Inti Jiwa kita). |
![]()
|
|
43 |
Dengan mengetahui Dirinya (Sang Atman) lebih agung dari buddhi,
maka kuasailah dirimu (strata yang lebih rendah) dengan Dirimu (Sang Atman, yang
lebih tinggi), dan bunuhlah musuhmu yang bernama nafsu ini, musuh yang sukar
untuk dikalahkan. |
![]()
|
|
Dalam
Upanishad Bhagavat Gita, Ilmu Pengetahuan yang Abadi, Karya Sastra Yoga,
dialog antara Sang Krishna dan Arjuna, maka karya ini adalah bab ketiga yang
disebut: Karma yoga atau Ilmu Pengetahuan tentang tindakan (atau pekerjaan) \ |
Kembali
ke halaman induk Bhagavat Gita
Kembali ke halaman induk Situs Shanti Griya